Ini Kata Edhy Prabowo Usai Jalani Pemeriksaan Perdana Selaku Tersangka

Wilda Nufus - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 22:49 WIB
Edhy Prabowo usai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka, di gedung KPK, Kamis (26/11/2020).
Edhy Prabowo usai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka. (Wilda Nufus/detikcom)
Jakarta -

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo telah selesai menjalani pemeriksaan perdananya hari ini sebagai tersangka dugaan suap ekspor benur. Edhy pun terlihat santai usai menjalani pemeriksaan.

Pantauan detikcom di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (26/11/2020), Edhy keluar pukul 21.40 WIB. Edhy terlihat mengenakan rompi oranye dengan tangan diborgol.

Edhy pun kemudian menanggapi pertanyaan awak media yang mencecarnya terkait pemeriksaan hari ini. Edhy menyebut awalnya dirinya dicek kesehatan terlebih dahulu sebelum menjalani pemeriksaan.

"Alhamdulillah cek kesehatan, tadi memang ada sedikit, ya itu biasalah, sekarang saya sudah ikutin terus proses pemeriksaan," kata Edhy di lokasi.

Edhy menyebut masih terus akan menjalani serangkaian pemeriksaan selanjutnya.

Sebelumnya, KPK menetapkan Menteri KKP Edhy Prabowo sebagai tersangka kasus dugaan suap ekspor benih lobster. Edhy diduga menerima suap terkait penunjukan eksportir benih lobster.

Kasus dugaan suap Edhy berawal dari informasi penerimaan uang oleh penyelenggara negara. Pada 21 November 2020 sampai 23 November 2020, KPK kembali menerima informasi terkait hal ini.

Konstruksi perkaranya, pada 14 Mei 2020, Edhy menerbitkan Surat Keputusan Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster. Pihak yang hendak menjadi eksportir benur harus memenuhi penilaian Tim Uji Tuntas sebagaimana yang tertera dalam Surat Keputusan itu.

Tim Uji Tuntas dipimpin oleh Staf Khusus Edhy bernama Andreau Pribadi Misanta (APM) selaku Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas. Ada pula Staf Khusus Menteri Edhy bernama Safri (SAF) selaku Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas.

Pada awal Oktober 2020, Direktur PT Dua Putra Perkasa (PT DPP) bernama Suharjito (SJT) datang ke kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk bertemu SAF. PT DPPP hendak menjadi eksportir benur. Untuk mengekspor benur, syaratnya harus melalui PT Aero Citra Kargo (PT ACK). PT ACK ini bertindak sebagai 'forwarder' benur dari dalam negeri ke luar negeri.

"Dalam pertemuan tersebut, diketahui bahwa untuk melakukan ekspor benih lobster hanya dapat melalui forwarder PT ACK dengan biaya angkut Rp 1.800/ekor," kata Nawawi Pomolango.

Selengkapnya baca di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2