Round-Up

Wacana Kemenag soal Khotbah Jumat, Senayan Waswas Cuma 'Proyek' Sesaat

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 20:03 WIB
Warga melaksanakan shalat Jumat di salah satu Masjid di kawasan Pancoran, Jakarta, Jumat (18/9/2020). Pengurus masjid tetap melaksanakan shalat Jumat di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.
Ilustrasi Salat Jumat. (Dhemas Reviyanto/Antara Foto)
Jakarta -

Kementerian Agama (Kemenag) akan menyiapkan naskah khotbah Jumat. Rencana itu melahirkan kekhawatiran anggota Komisi VIII DPR.

Pembuatan naskah khotbah akan melibatkan ulama hingga akademisi dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin menjelaskan penyusunan khotbah Jumat ini sejalan dengan kebijakan Kemenag, yakni menyediakan literasi digital yang mendukung peningkatan kompetensi penceramah agama.

Pembuatan naskah khotbah akan melibatkan ulama hingga akademisi dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Adapun sejumlah tema yang akan disusun antara lain akhlak, pendidikan, globalisasi, zakat, wakaf, ekonomi syariah, dan masalah generasi milenial.

Rencana itu menuai pro-kontra. Kemenag dinilai terkesan tak percaya pada materi yang disampaikan khatib atau dai saat khotbah Jumat jika mengatur soal naskah.

Ini Tema-tema Naskah Khotbah Jumat

Salah satu tema pilihan dalam program penyiapan khotbah Jumat adalah pengarusutamaan moderasi beragama. Tema keagamaan misal ubudiyah dan amaliah, juga mendapat tempat dalam program penyiapan khotbah Jumat.

Tentunya tema sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan Islam tidak luput dari pembahasan di program tersebut. Beberapa tema ini dinilai signifikan untuk kehidupan dan dibahas menjadi naskah khotbah Jumat.

Kamaruddin mengatakan para penyusun akan merumuskan lebih dulu kebutuhan pesan keagamaan masyarakat. Selanjutnya pesan keagamaan kontemporer tersebut dituangkan dalam rumusan tema khotbah Jumat bersama-sama.

Menurut Kamaruddin, program penyiapan khotbah Jumat memperkaya materi dengan isu-isu kontemporer. Hasilnya, pesan dan wawasan publik terkait isu aktual dari sudut pandang agama akan terus meningkat.

Naskah Khotbah Jumat Bersifat Alternatif, Bukan Wajib

Naskah khotbah Jumat yang akan disusun Kemenag bersifat alternatif. Jadi tidak ada kewajiban bagi penceramah untuk dibacakan.

"Naskah yang disusun bisa dijadikan alternatif. Tidak ada kewajiban setiap masjid dan penceramah untuk menggunakan naskah khotbah Jumat yang diterbitkan Kemenag," ujarnya.

Komisi VIII DPR: Khawatir Hanya Jadi 'Proyek'

Wakil Ketua Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Golkar Ace Hasan Syadzily meragukan apakah naskah khotbah Jumat dari Kemenag akan digunakan oleh para khatib. Jika tidak digunakan, Ace khawatir naskah khotbah itu hanya akan menjadi 'proyek'.

"Menyiapkan naskah khotbah Jumat untuk para khotib ya boleh-boleh saja. Tapi pertanyaannya, apakah bahan naskah khotbah itu akan digunakan atau tidak oleh para khatib di masjid-masjid? Jika tidak digunakan, saya khawatir program itu hanya menjadi 'proyek' saja, hanya disimpan di rak buku masjid," ujar Ace.

Ace tak mempermasalahkan jika tujuan disiapkannya naskah khotbah Jumat itu adalah untuk menambah wawasan para khatib. Ia pun meminta naskah khotbah Jumat tidak hanya berisi pesan kepentingan pemerintah jika nantinya naskah itu disiapkan oleh Kemenag.

Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto menilai Kemenag terkesan tak percaya pada materi yang disampaikan khotib atau dai saat khotbah Jumat jika mengatur soal naskah.

"Sebenarnya penting-nggak penting juga. Nggak penting maksud saya kan para mubalig-mubalig kita ini sudah handal dengan keilmuannya. Jangan sampai juga nanti Kemenag terkesan tidak percaya dengan materi yang disampaikan selama ini oleh para khatib-khatib di mimbar Jumat. Itu juga harus di-clear-kan oleh Kemenag," kata Yandri.

Politikus PAN itu tak setuju jika para khatib yang menyampaikan khotbah mendapat tuduhan menyebarkan paham radikalisme.

Selanjutnya
Halaman
1 2