Pilkada di Masa Pandemi, PWI Harap Kepala Daerah Terpilih Bangkitkan Ekonomi

Tim Detikcom - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 19:35 WIB
Ketua Umum PWI Pusat, Atal S Depari dalam acara diskusi Mappilu PWI
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Pilkada serentak akan digelar pada 9 Desember 2020 di tengah masa pandemi Corona. Ketua PWI Pusat Atal S Depari berharap kepala daerah terpilih dapat membangkitkan ekonomi di tengah pandemi Corona.

Hal tersebut disampaikan Atal dalam diskusi Seri Ke-3 Mappilu PWI bertajuk 'Pilkada 2020: Mencari Pemimpin Perubahan Penggerak Perekonomian' di Kantor PWI Pusat, Jakarta, Kamis (26/11/2020).

Selain Atal, acara tersebut turut dihadiri Ketua Mappilu PWI Suprapto Sastro Atmojo; Wakil Ketua Umum REI, Raymond Arfandi; CEO Sritex Iwan Setiawan; Ketua Umum Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) Eko Sriyanto Galgendu; dan Direktur Utama PT Harta Mulia, Wima Brahmantya.

Atal mengatakan saat ini ada dua hal yang menjadi perhatian pemerintah, yaitu bagaimana mengatasi COVID-19 serta dampak ekonominya. Oleh karena itu, Mappilu juga menghimbau masalah ekonomi tidak bisa ditawar karena semua tiarap.

"Kami berharap pemimpin pemimpin baru nanti punya visi untuk membangkitkan ekonomi dari daerah, kami berharap ada pencerahan dari diskusi ketiga Mappilu PWI ini, terima kasih kepada para pembicara yang bersedia hadir," ujar Atal.

Sementara itu, CEO Sritex Iwan Setiawan menceritakan bisnisnya turut terdampak di tengah pandemi. Pengusaha di bidang industri tekstil itu menyampaikan, terjadi perubahan yang luar biasa di dunia usaha sejak Maret 2020 setelah karantina wilayah diberlakukan. Ekonomi menjadi stagnan karena pengusaha tidak bisa mengekspor dan terkendala jualan di dalam negeri.

"Hal yang saya alami kita melihat kondisi pada saat itu pertama bagaimana kesehatan kita harus kuat. Kedua, Sritex harus hidup dan tidak ada PHK, ternyata ada jalan kami membuat masker, APD yang mengakibatkan ada pemasukan untuk Sritex. Kita sebulan mengubah industri kita menjadi pembuat masker dengan produksi 50 juta pcs. Ini salah satu sikap dinamis pengusaha untuk menyesuaikan kondisi," ujar Iwan.

Lebih lanjut, Iwan juga menyoroti terkait kepemimpinan. Menurutnya, terdapat tiga hal penyebab kemunduran bangsa. Pertama, kurangnya jiwa nasionalisme dari pemimpin; kedua, minimnya kualitas pendidikan; dan ketiga, pembentukan kultur-kultur yang dianggap benar.

"Pemimpin perubahan itu dituntut berintegritas tinggi multi skill dan memahami banyak bidang dengan berani mengubah kultur dan bertindak cepat. Itu menjadi landasan kita untuk menghadapi masa depan," ujar Iwan.

Simak juga video 'Demi Protokol Kesehatan, Bawaslu Hilangkan Kampanye Rapat Umum':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2