Sidang Kasus Djoko Tjandra

Di Sidang Djoko Tjandra, Saksi Ini Bicara 'Senior-Junior' di Polri

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 18:04 WIB
Sejumlah anggota Polri menjadi saksi di sidang lanjutan untuk terdakwa Djoko Tjandra. Sidang tersebut digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta.
Djoko Tjandra sewaktu mengikuti persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Kombes Tommy Aria Dwianto berbicara mengenai hubungan senior dan junior di lingkungan anggota Polri. Hal itu diungkapkan Tommy saat bersaksi dalam persidangan kasus red notice Djoko Tjandra.

Pada awalnya Brigadir Fortes mengaku pernah diperintahkan oleh Brigjen Prasetijo untuk membuat surat atas nama Anna Boentara yang merupakan istri Djoko Tjandra. Surat itu berisi menanyakan status hukum Djoko Tjandra ke Kadivhub Interpol Polri yang saat itu dijabat oleh Irjen Napoleon Bonaparte.

Kemudian, pengacara Djoko Tjandra, Soesilo Aribowo, bertanya mengapa Brigadir Junjungan Fortes mengikuti perintah Brigjen Prasetijo Utomo yang merupakan Kakorwas PPNS Bareskrim Polri. Padahal Prasetijo bukan atasan langsung dirinya.

Brigadir Fortes menyebut dia hanya mengikuti perintah atasan tidak langsungnya. Dia juga mengaku telah meminta izin ke atasannya, yakni Kombes Tommy.

"Saudara kan diperintah oleh Pak Pras, saudara selalu katakan karena perintah jenderal, pertanyaan saya inikan punya tupoksi beda. Kenapa saudara selalu menjawab perintah jenderal, padahal Pak Pras kan divisinya beda, apakah ini karena menyangkut kenaikan pangkat saudara?" tanya pengacara Djoko Tjandra, Soesilo Aribowo, di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Kamis (26/11/2020).

"Tidak Pak, di Polri itu ada atasan langsung dan tak langsung," jawab Fortes.

"Saya ketika ingin buat draf (surat ke istri Djoko Tjandra) itu laporan sama atasan saya Kombes Tommy," imbuhnya.

Kombes Tommy yang juga duduk sebagai saksi dalam sidang ini memiliki alasan sendiri kenapa mengizinkan anak buahnya, yaitu Brigadir Fortes mengerjakan perintah Brigjen Prasetijo meskipun bukan atasan langsung. Menurut Tommy, hal itu biasa terjadi mengingat ada hubungan antara senior dan junior di lingkungan polisi.

"Rasionalitasnya adalah di dalam kehidupan kami bertugas ada kehidupan senior junior juga Pak," kata Kombes Tommy.

"Apa ada aturannya?" tanya Soesilo.

"Tidak ada aturan tapi kami diajari menghormati senior," tegas Tommy.

Hakim anggota Joko Subagyo lantas menanyakan maksud Tommy terkait hubungan senior junior itu. Hakim Joko menanyakan apakah ada intervensi di perintah Prasetijo terkait surat Anna Boentaran itu, namun Tommy menegaskan hal itu biasa.

"Di kehidupan kami sekarang banyak senior junior, ada senior yang telepon. Kalau ada senior telepon kami akan datang sepanjang nggak ganggu kerjaan kami. Kami sudah sampaikan ke Pak Kadiv ada anggota yang dipanggil orang lain. Beliau hanya sampaikan secara gesture aja," kata Kombes Tommy.

Duduk sebagai terdakwa di sidang ini adalah Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. Djoko Tjandra didakwa bersama dengan Tommy Sumardi memberikan suap ke 2 jenderal polisi, yaitu Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo.

Suap yang diberikan ke Irjen Napoleon sebanyak SGD 200 ribu dan USD 270 ribu. Bila dikurskan, SGD 200 ribu sekitar Rp 2,1 miliar, sedangkan USD 270 ribu sekitar Rp 3,9 miliar lebih, sehingga totalnya lebih dari Rp 6 miliar.

Lalu, suap kepada Brigjen Prasetijo sebesar USD 150 ribu. Bila dikurskan, USD 150 ribu sekitar Rp 2,1 miliar.

(zap/dhn)