Digitalisasi Penyiaran Harus Mampu Jangkau Wilayah 3T

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 14:25 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menyebut digitalisasi penyiaran harus mampu meningkatkan peran lembaga penyiaran dalam membangun ketahanan budaya dan ideologi bangsa, termasuk menjangkau wilayah 3T. Apalagi kelebihan sistem digitalisasi dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.

"Dengan kelebihan sistem digitalisasi dapat menjangkau wilayah yang lebih luas, bisa dimanfaatkan untuk menyiarkan informasi ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar sehingga mampu memberi pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat," kata Rerie, sapaan akrabnya, dalam keterangannya, Selasa (24/11/2020).

Hal itu diungkapkannya dalam diskusi daring terkait Digitalisasi Penyiaran di Indonesia yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin (23/11).

Menurut Rerie, era globalisasi membuat dunia tanpa batas dan saat ini ada indikasi lunturnya pemahaman nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), akibat masih lemahnya penetrasi siaran analog di wilayah tersebut. Sementara itu, wilayah 3T itu saat ini didominasi oleh siaran-siaran televisi negara lain.

Diungkapkannya, digitalisasi penyiaran berpotensi memperkuat dan memperluas cakupan penyiaran. Sehingga digitalisasi penyiaran diharapkan mampu menjawab tantangan di wilayah-wilayah 3T tersebut. Pasalnya di wilayah perbatasan masih banyak terjadi luberan informasi dari negara tetangga dan potensi ekonomi yang belum dikelola dengan baik dan belum optimalnya infrastruktur di wilayah tersebut.

"Faktor-faktor itulah yang harus jadi pendorong kita untuk menunjukkan keseriusan membangun infrastruktur penyiaran di wilayah 3T," ujar Legislator Partai NasDem itu.

Ia menegaskan membangun industri penyiaran digital agar bisa menjangkau wilayah perbatasan bukan sekadar agar siaran televisi bisa dinikmati masyarakat di wilayah tersebut dengan baik. Media penyiaran memang punya kemampuan untuk menetralisir berita yang salah dan cenderung menciptakan hoax.

Lebih dari itu, dengan tata kelola yang baik industri penyiaran digital juga diharapkan mampu mendorong pembangunan ekonomi di wilayah 3T. Tantangan penyiaran digital di masa datang, menurut Rerie, antara lain perlu penguatan informasi dan konten digital sehingga mampu ikut membangun nasionalisme bangsa, lewat konten yang mengandung nilai kebangsaan seperti nilai-nilai pada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(mul/mpr)