Kapolda NTT Minta Hapus Istilah 'Kawin Tangkap': Orang Salah Tafsir

Audrey Santoso - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 12:14 WIB
Kapolda NTT Irjen Lotharia Latif berdialog dengan warga Besipae perihal sengketan lahan Pemprov NTT
Kapolda NTT Irjen Lotharia Latif dialog dengan warga Besipae perihal sengketan lahan Pemprov NTT. (Foto: dok. istimewa)
Kupang -

Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Lotharia Latif menyoroti istilah 'kawin tangkap'. Dia meminta istilah 'kawin tangkap' dihapus karena menimbulkan salah tafsir dalam praktiknya di tengah masyarakat.

"Jadi di sini, ada budayawan asal Sumba Tengah, namanya Pak Anderias P Sabaora. Kami telah berdiskusi membahas perihal 'kawin tangkap' yang masih terjadi di beberapa tempat di NTT. Saya usul, sudahlah... tidak usah lagi ada istilah 'kawin tangkap' karena masyarakat ternyata salah menafsirkan dalam praktiknya, tidak sesuai dengan tradisi zaman dulu. Dan Pak Anderias setuju dengan usulan saya," jelas Latif kepada detikcom, Selasa (24/11/2020).

Tradisi 'kawin tangkap' yang sebenarnya, jelas Latif, didasari kesepakatan keluarga 'yang menangkap' dan 'yang ditangkap'. Latif menerangkan antara keluarga mempelai pria dan mempelai wanita turut dalam rencana 'kawin tangkap'.

"Saat proses ('kawin tangkap')-nya berjalan, ada kuda yang diikat dan emas di bawah bantal. Itu menandai prosesi 'kawin tangkap' tengah berlangsung. Namun dewasa ini, orang salah menafsirkan tradisi 'kawin tangkap', akhirnya dia melakukan praktik pemaksaan-pelecehan terhadap perempuan. Itu tidak tepat untuk menggambarkan tradisi di NTT," terang Latif.

Latif menegaskan penyidik kepolisian tak akan lagi memakai istilah 'kawin tangkap' dalam menangani perkara terkait. Latif menghendaki tokoh-tokoh adat di NTT mengkaji kembali dan merumuskan istilah yang sesuai dengan budaya setempat.

"Semua elemen punya peran, ya, seperti tokoh adat, untuk merumuskan istilah-istilah apa yang sesuai dengan kearifan masyarakat adat," kata Latif.

"Dulu, tradisi 'kawin tangkap' di Sumba jelas proses adatnya. Bukan asal main bawa perempuan dengan paksa seperti yang sempat viral beberapa waktu lalu," sambung Latif.

Latif mengaku telah menyampaikan hal ini saat rapat dengan Komnas Perempuan soal kasus kekerasan perempuan, di antaranya perkara 'kawin tangkap' di Sumba Tengah serta kasus bentrok warga dengan Satpol PP di Besipae, Timor Tengah Selatan (TTS). Kedua kasus tersebut sempat viral di media sosial.

Simak viral peristiwa kawin tangkap di Sumba Tengah yang buat Menteri PPPA angkat bicara di halaman selanjutnya >>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2