Round-Up

Sindiran Parpol Terangkai Kala Anies Baca 'How Democracies Die'

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 05:03 WIB
Anies Baswedan sedang membaca How Democracies Die (Dok.  Instagram)
Foto: Anies Baswedan sedang membaca 'How Democracies Die' (Dok. Instagram)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengunggah foto dirinya sedang membaca buku berjudul 'How Democracies Die' di akun media sosialnya. Unggahan Anies disorot sejumlah kalangan.

Awalnya pada Minggu (22/11) pagi, Anies mengunggah foto dia memakai baju koko berwarna putih dan sarung berwarna coklat. Anies membaca buku berjudul 'How Democracies Die' sambil duduk menyilangkan kakinya, ia duduk di depan rak buku yang menjadi latar belakangnya.

Postingan tersebut diunggah pada Minggu (22/11) pagi dan telah mendapat respon disukai 44.454 orang per pukul 10.52 WIB. Serta mendapat 2 ribu lebih komentar dari netizen.

Buku 'How Democracies Die' merupakan karya penulis profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Buku tersebut membahas beberapa pemimpin di dunia yang terpilih melalui Pilpres tetapi lekat dengan label 'diktator'.

Dalam bukunya, mereka mencatat bahwa kemunculan beberapa pemimpin diktator justru merupakan hasil dari pemilu. Demokrasi mati bukan karena pemimpin diktator yang memperoleh kekuasaan lewat kudeta, melainkan justru yang menang melalui proses pemilu.

Sejumlah kalangan pun ikut angkat suara. Ada yang menyindir pedas dan ada pula yang menduga Anies memposting foto itu karena tengah introspeksi diri.

Golkar: Terjemahkan, Bukan Sekadar Wacana

Partai Golkar meminta Anies bisa menerjemahkan buku yang dibacanya menjadi kerja nyata.

"Bagus saja seorang gubernur rajin membaca buku, termasuk buku 'How Democracies Die'. Yang penting kan, setiap orang harus memiliki komitmen yang kuat agar tetap mempertahankan dan menegakkan demokrasi dalam kehidupan politik kenegaraan kita," kata Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Senin (23/11/2020).

"Membaca buku, bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga diterjemahkan ke dalam kerja-kerja konkret dan bukan sekadar wacana," imbuhnya.

Ace kemudian menceritakan sekilas isi buku tersebut. Dia mengatakan semua pihak berkomitmen memegang teguh demokrasi.

Menurut Ace, demokrasi bukan hanya terkait sebuah institusi. Namun, kata dia, juga menyangkut nilai di dalamnya, yakni soal toleransi dan perbedaan.

Lebih lanjut, menurut Ace, demokrasi jauh dari nilai-nilai politisasi golongan dan agama tertentu. Dia juga menyinggung soal pelanggaran aturan yang sudah disepakati.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta Basri Baco menilai Anies tengah mencari perhatian. "Kan biasa Pak Gubernur begitu, lagi cari perhatian atau lagi mengalihkan perhatian juga mungkin," ujar Basri.

Basri meminta Anies lebih fokus mengurus rakyat Jakarta. Terlebih, menurutnya, banyak janji kampanye Anies yang belum terpenuhi.

PD Bandingkan Demokrasi di Era SBY

Partai Demokrat (PD) menyinggung soal kondisi demokrasi saat ini yang dinilai tidak sehat.

"Pastinya harus bertanya kepada Mas Anies Baswedan. Namun, jika melihat kondisi, demokrasi saat ini memang sedang tidak sehat," kata Kepala BPOKK Partai Demokrat Herman Khaeron kepada wartawan, Senin (23/11/2020).

Herman membandingkan kondisi demokrasi saat ini dengan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Herman menilai demokrasi era SBY berkembang dengan baik.

Herman kemudian menyoroti kondisi demokrasi saat ini. Dia menganggap kondisi saat ini terkesan hilangnya nilai reformasi.

"Ada banyak aktivis yang kritis diperkarakan dan dinyatakan bersalah, seakan-akan nilai-nilai reformasi telah hilang," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3