Kontraktor China CNQC Pailit, BKPM Diminta Seleksi Kontraktor Asing

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Senin, 23 Nov 2020 23:18 WIB
CNQC
Foto: dok. Istimewa
Jakarta -

Di tengah pandemi COVID-19, banyak perusahaan yang mengalami kesulitan likuiditas akibat penurunan pendapatan. Indonesia Property Research Center Dimas Putra berpendapat saat ini permohonan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) semakin meningkat.

Hal ini menunjukkan adanya permasalahan yang dialami oleh para debitur di tengah pandemi COVID-19. Bahkan, lanjutnya, beberapa perusahaan puns udah dinyatakan pailit.

Salah satu perusahaan yang kini telah pailit yaitu Qingjian International (South Pacific) Group Development Co. Pte. Ltd atau biasa disebut CNQC. Perusahaan asal China berskala internasional ini bergerak di bidang konstruksi.

"Kalau sudah tidak bisa restrukturisasi langsung dimohonkan pailit ke pengadilan niaga. PKPU bisa dijadikan way out financial dari financial distress sepanjang bisa di-manage pelaksanaan kepailitan dan PKPU," ujar Dimas dalam keterangan tertulis, Senin (23/11/2020).

Dimas mengimbau kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk melakukan seleksi dan verifikasi terhadap para kontraktor asing yang masuk ke Indonesia. Salah satu kriteria penting adalah modal yang disetorkan untuk membuka usaha jasa konstruksi di Indonesia.

Menurut Dimas, apabila kontraktor asing hanya mengambil market share kontraktor lokal dan tidak memberikan dampak positif terhadap pembangunan ekonomi, para kontraktor lokal kecil bisa gulung tikar.

"Akhir-akhir ini di tengah serangan pandemi COVID-19 yang masih belum ada kejelasan kapan akan berakhir, banyak emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kesulitan likuiditas. Kesulitan dana tersebut menyebabkan beberapa di antaranya tidak mampu membayar utang, sehingga
emiten tersebut terpaksa mengajukan permohonan PKPU bahkan beberapa emiten ada yang sedang menghadapi gugatan pailit dan ada pula yang sudah dinyatakan pailit," ucapnya.

Ia optimistis prospek bisnis konstruksi masih sangat baik apabila didukung dengan permodalan yang kuat. Pembangunan infrastruktur masih berlanjut dan proyek-proyek pembangunan gedung pun juga mulai menggeliat.

Dimas mengimbau para subkontraktor untuk lebih berhati-hati dalam menerima proyek, karena yang dirugikan dalam kepailitan kontraktor utama ini adalah para subkontraktor.

"Rata-rata emiten yang terkena masalah likuiditas memiliki rasio utang yang kurang baik. Meski demikian, di luar kasus pailit yang juga bermasalah, mayoritas emiten yang berada dalam proses PKPU, pailit dan dinyatakan pailit juga datang dari sektor properti yang kita tahu terdampak cukup parah oleh COVID-19. Di tengah pandemi ini, tentunya sektor properti akan kesulitan dalam menjual unit propertinya karena memang daya beli masyarakat yang sedang turun. Beberapa emiten juga memang sudah kesulitan dalam melunasi pembayaran utang sebelum tahun 2020 karena sektor bisnis yang sudah ketinggalan zaman sehingga ketika di tahun ini Indonesia kedatangan COVID-19, para emiten yang kasnya sudah seret menjadi semakin merana," ungkapnya.

Dimas menambahkan permasalahan awal CNQC pailit terjadi saat perusahaan jasa konstruksi PT Mitra Pemuda Tbk (MTRA) bersama CNQC membentuk usaha patungan yaitu CNQC-MTRA JO. Usaha patungan tersebut untuk mengerjakan pembangunan gedung di Bekasi yang dimiliki PT Logos Indonesia Bekasi One.

CNQC-MTRA JO pun merugi atas keterlambatan yang mencapai Rp 75,06 miliar per 15 Aprill 2020. PT Grama Bazita, salah satu subkontraktor proyek Logos Bekasi One mengajukan Permohonan PKPU atas CNQC-MTRA JO, PT Mitra Pemuda Tbk dan Qingjian International (South Pacific) Group Development Co. Pte. Ltd. atas tagihan yang belum dibayarkan.

CNQC diputuskan pailit oleh Majelis Hakim Niaga Pengadilan Negeri Niaga Pusat sesuai dengan putusan No 161/Pdt.Sus-PKPU/2020/Pn.Niaga.Jkt.Pst tanggal 9 November 2020.

Majelis Hakim Niaga juga mengangkat Saudara Bambang Harianto Ginting, Welfrid Kristian, Jelferik Sitanggang sebagai kurator. Seluruh kreditur wajib melaporkan seluruh tagihannya kepada kurator untuk dapat diproses administrasinya.

(prf/ega)