HNW: Sampai Kapan Pun Sosialisasi 4 Pilar Dibutuhkan Indonesia

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Senin, 23 Nov 2020 21:20 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menegaskan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI selain bertujuan memperkokoh nilai kebangsaan di masyarakat, juga penting untuk mengingatkan masyarakat terhadap kesepakatan yang telah diambil para pendiri bangsa. Hal itu menurut Hidayat penting untuk menjaga persatuan dan kerukunan bangsa.

Hidayat mengemukakan Sosialisasi Empat Pilar dirasa semakin penting karena masih didapati berbagai gerakan yang bermaksud mengingkari dan mengubah kesepakatan para pendiri bangsa. Salah satunya, ulas Hidayat, upaya mengganti Pancasila menjadi Trisila atau Ekasila, serta tindakan memecah persatuan NKRI, seperti yang dilakukan organisasi Papua Merdeka.

Hal itu ia sampaikan pada acara Temu Tokoh Nasional/Kebangsaan hasil kerja sama MPR dengan Yayasan Muda Visa Mandiri. Acara tersebut berlangsung di SDIT Matahari, Jalan Jurang Mangu Barat, Tangerang, Banten, Minggu (22/11).

"Upaya mengubah kesepahaman yang dulu sudah diamanatkan oleh para pendiri bangsa pasti akan menimbulkan penolakan, keributan bahkan korban jiwa. Di Papua misalnya, gerakan OPM sudah menimbulkan jatuhnya korban jiwa, dan terus memberi ancaman serta rasa tidak aman di kalangan masyarakat Papua. Karena itu penting bagi Tentara Nasional Indonesia menumpas serta menegakkan kedaulatan NKRI dari ancaman serta gangguan OPM," ungkap Hidayat dalam keterangannya, Senin (23/11/2020).

Ia menegaskan falsafah, dasar, dan ideologi Pancasila sudah disepakati pada 18 Agustus 1945. Oleh sebab itu, tidak boleh ada kelompok yang menggugat, apalagi berusaha mengubah kesepakatan tersebut.

Begitu pula bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dikatakan Hidayat sebagai keputusan final dan berlaku mutlak. Ia menyatakan NKRI adalah bentuk negara yang paling sesuai dengan kondisi Indonesia yang memiliki banyak kepulauan, dan dipisahkan oleh lautan.

"Sampai kapan pun Sosialisasi Empat Pilar dibutuhkan oleh bangsa Indonesia, sebagaimana handphone membutuhkan charger. Terlebih jika muncul upaya-upaya mengkhianati dan mengganti kesepahaman yang pernah ditetapkan oleh para pendiri bangsa," ulas Hidayat.

(prf/ega)