Kodam Jaya Jelaskan soal Penumpang Wanita di Ranpur TNI Saat Penertiban Baliho

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 22 Nov 2020 18:18 WIB
Kapendam Jaya Letkol Arh Herwin Budi Saputra, Kapendam Jaya Kolonel Arh Herwin Budi Saputra
Kapendam Jaya. (Dok Istimewa)
Jakarta -

Kodam Jaya menjelaskan soal video dan foto penumpang perempuan di kendaraan TNI saat penertiban baliho Habib Rizieq Syihab. Kodam Jaya menyebut perempuan itu adalah jurnalis. Perempuan itu bukan jurnalis detikcom.

Foto dan video yang beredar itu berasal dari kejadian pada Jumat (20/11/2020). Kapendam Jaya Letnan Kolonel Arh Herwin Budi Saputra mengatakan ada 7 wartawan yang naik kendaraan tempur TNI.

"Banyak yang curiga dan mempertanyakan mengapa warga sipil bisa naik panser yang ingin menurunkan spanduk dan baliho HRS, di sini saya nyatakan wanita tersebut adalah seorang jurnalis," kata Kapendam Jaya, Letnan Kolonel Arh Herwin Budi Saputra, dalam keterangannya, Minggu (22/11/2020).

Berikut ini keterangan lengkap dari Kodam Jaya:

Kapendam Jaya Letnan Kolonel Arh Herwin Budi Saputra memberikan keterangan sebagai klarifikasi mengenai video dan pemberitaan yang sempat viral tentang penumpang wanita berbaju kotak-kotak naik kendaraan tempur (Ranpur) TNI Anoa saat penertiban baliho HRS di Petamburan Jakarta Pusat pada hari Jumat tanggal 20 Nopember 2020 yang lalu.

Kapendam Jaya mengatakan bahwa wanita yang berada di atas Ranpur TNI Anoa tersebut adalah seorang jurnalis dari media online Nasional jadi tidak perlu membawa alat kamera foto maupun kamera video dalam membuat suatu pemberitaan, katanya.

Disini saya harus segera meluruskan pemberitaan tersebut, agar tidak menimbulkan kecurigaan dan kegaduhan tentang kenapa ada seorang wanita berbaju kotak-kotak ada di atas Ranpur TNI saat pelaksanaan penertiban baliho HRS, kata Letkol Arh Herwin dikantornya Mapendam Jaya, Jl. mayjen Sutoyo No.5, Cililitan-Jaktim, Minggu, (22/11/2020)

Kapendam Jaya menjelaskan bahwa jurnalis tersebut sebenarnya bukan sendirian ada 7 orang awak media yang ikut meliput saat kegiatan penertiban baliho HRS di seluruh jalan protokol, yaitu 1 Ranpur TNI dinaiki 3 orang Jurnalis dari Kontributor CNN TV, Wartakota dan Genpi.com, yang naik di Ranpur TNI satunya dinaiki oleh 4 orang Jurnalis dari LKBN Antara, Medcom.id, Koran Lampu Hijau dan kontributor dari Indosiar, ungkapnya

Klarifikasi ini menjawab tentang video yang viral di media sosial (medsos), di mana puluhan personel TNI menggunakan motor trail dikawal Ranpur TNI sedang menuju Petamburan, ada penumpang warga sipil yang turut naik panser. Penumpang perempuan tersebut memakai baju kotak-kotak menjadi bahan pembicaraan warganet (netizen). Banyak yang curiga dan mempertanyakan mengapa warga sipil bisa naik panser yang ingin menurunkan spanduk dan baliho HRS, disini saya nyatakan wanita tersebut adalah seorang jurnalis, pungkasnya.

Klarifikasi detikcom

Sementara itu, detikcom juga telah memberikan klarifikasi terkait narasi di foto yang beredar itu. detikcom membantah kabar yang menyebut salah seorang editornya--Odilia Winneke--bagian dari politik praktis. Kabar itu jelas hoax dan termasuk doxing serta bullying.

Pemimpin Redaksi Alfito Deannova Gintings mengecam keras segala bentuk intimidasi di media sosial yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Odilia sehari-hari merupakan editor di kanal detikFood. Di mana konten yang diulasnya sehari-hari terkait dengan resep-resep dan wisata kuliner. Jadi tuduhan yang menyebut yang bersangkutan (Odilia, red) sampai naik panser untuk membela salah satu kubu politik itu merupakan tuduhan yang tidak masuk akal," tegasnya.

Selain itu, kesalahan lain yang diedarkan oleh pihak tidak bertanggung jawab tersebut adalah detikcom disebut sebagai bagian dari Grup Gramedia. Ini juga merupakan kekeliruan karena yang sebenarnya adalah detikcom merupakan bagian dari Transmedia.

Akhir kata, detikcom dan karyawannya hanya melaksanakan kegiatan jurnalistik sesuai kaidah yang berlaku, yakni UU Pers, kode etik jurnalistik, dan pedoman media siber atas dasar kebenaran dan keadilan.

"Kami tidak akan pernah terlibat dalam politik praktis dan kegiatan-kegiatan turunannya. Tindakan doxing yang dialami Odilia adalah upaya-upaya mengganggu kerja jurnalistik detikcom," pungkas Alfito.

Simak video 'Viral Kendaraan TNI Show Of Force di Depan Markas FPI':

[Gambas:Video 20detik]



(imk/fjp)