Sidang Kasus Suap Nurhadi

Terungkap soal Pengacara Top Tangani Perkara di MA, Ternyata Adik Ipar Nurhadi

Ibnu Hariyanto - detikNews
Jumat, 20 Nov 2020 11:53 WIB
Tersangka kasus dugaan suap gratifikasi penanganan perkara di MA, Nurhadi kembali diperiksa KPK, Jumat (19/6/2020).
Mantan Sekretaris MA Nurhadi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Dalam persidangan perkara suap-gratifikasi yang menjerat mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, terungkap adanya kabar tentang 'pengacara top'. Usut punya usut, ternyata yang dimaksud 'pengacara top' adalah adik ipar Nurhadi sendiri.

Hal itu terungkap dari kesaksian Onggang JN, yang bekerja di bagian legal PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT). Perusahaan itu, yang direktur utamanya adalah Hiendra Soenjoto, beperkara di MA. Hiendra dijerat pula dalam perkara yang sama sebagai pemberi suap kepada Nurhadi.

Jaksa KPK awalnya bertanya kepada Onggang perihal pengajuan peninjauan kembali (PK) terkait penangguhan eksekusi putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara atas gugatan PT MIT terhadap PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN). Onggang pun menyebut pengajuan PK itu diurus seorang pengacara top dari Surabaya bernama Rahmat Santoso.

"Yang upaya hukum PK ini yang menangani Pak Rahmat Santoso," kata Onggang saat bersaksi di persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, Jumat (20/11/2020).

"Apa ada penyampaian dari Pak Hiendra yang lebih spesifik? Soal pengacara top?" tanya jaksa.

"Ya, jadi Pak Hiendra ini kan dekat dengan saya, beliau ini yang dia sukai yang dibilang profesional atau dianggap punya kualitas sehingga disampaikan top kalau memang dirasa punya kualitas," jawab Onggang.

Dalam surat dakwaan, nama Rahmat Santoso memang disebut sebagai adik ipar Nurhadi. Rahmat Santoso diberi kuasa oleh Hiendra untuk mengurus perkaranya di MA, di mana saat itu Nurhadi menjabat Sekretaris MA.

Nurhadi dalam persidangan ini duduk sebagai terdakwa bersama menantunya, Rezky Herbiyono. Keduanya didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun waktu 2012-2016.

Suap itu diberikan oleh Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT MIT agar keduanya membantu Hiendra dalam mengurus perkara. Uang suap diberikan secara bertahap sejak 22 Mei 2015 hingga 5 Februari 2016.

Salah satu perkara yang diurus Nurhadi dan Rezky terkait PK ke MA soal penangguhan eksekusi putusan PN Jakarta Utara terkait gugatan Hiendra terhadap PT KBN. Soal perkara itu Hiendra menunjuk seorang pengacara bernama Rahmat Santoso, yang merupakan adik ipar Nurhadi. Namun, tak lama, Hiendra mencabut kuasa Rahmat dan malah meminta bantuan Rezky, padahal diketahui Rezky bukan seorang pengacara.

Tonton video 'Cerita Saksi Diberi Tahu Bahwa Nurhadi 'Orang Top'':

[Gambas:Video 20detik]



(ibh/dhn)