Perkuat Kedaulatan, BNPP Gelar Pemberdayaan Masyarakat Perbatasan

Mustiana Lestari - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 09:11 WIB
BNPP
Foto: BNPP
Entikong -

Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) menggelar pembekalan dan pelatihan untuk masyarakat perbatasan di Entikong, Sanggau, Kalbar. Acara yang mengambil tema "Pemberdayaan Masyarakat Desa Terdepan Perbatasan Negara Sebagai Bagian Sistem Hankam" tersebut diikuti segenap stakeholder di wilayah terdepan negara, seperti tokoh masyarakat, TNI/Polri, perangkat desa dan sebagainya.

"Desa terdepan adalah bagian terdepan, bagian sistem pertahanan dan keamanan karena kita meyakini desa terdepan adalah yang paling strategis dan paling menentukan
tetap utuh atau tidak wilayah nasional kita," ucap Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP, Robert Simbolon, di acara tersebut, Selasa (17/11/2020).

Robert mengatakan masyarakat di desa terdepan ini harus memahami bahwa batas negara bukan hanya sekedar patok penanda wilayah territorial, melainkan juga mempunyai fungsi lain. Misalnya sebagai penghalang dari hal yang bertentangan dengan nasionalitas, sebagai jembatan yang menghubungkan kebudayaan yang sama. Selain itu, sebagai sumber daya pertukaran hingga menjadi simbol nasionalisme.

Namun selama ini, dia melihat masih banyak masyarakat yang kurang paham pentingnya batas negara tersebut, apalagi jika sudah merasa dekat dengan negara tetangga, Malaysia, "Tantangan kita tidak mudah. Secara tradisional, memang terbangun interaksi sehingga kebutuhan mereka harus terpenuhi melalui titik itu. Ini realiatas dan jadi bagian perhatian dan agenda kerja kita," pungkasnya.

BNPPDeputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP, Robert Simbolon & Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot/Foto: Humas BNPP

Hal senada juga disampaikan Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot. Dia menyebut ikatan emosional antarwarga negara memang tak bisa terelakan sehingga mereka dengan mudah menerima masuknya warga asing ke dalam wilayah mereka.

"Tetapi kekhawatirkan kita, mereka dimanfaatkan orang lain, salah satunya itu, dan jadi persoalan besar, intelijen negara luar bisa masuk lewat mereka. Misalnya penyelundupan barang terlarang," jelas Yohanes.

Lebih lanjut, Yohanes menyebut banyaknya pintu yang tak resmi membuat kekhawatiran semakin bertambah meskipun sudah ada TNI/POLRI yang berjaga di sana. "Tapi kalau mereka merasa Indonesia sudah mejadi tanggung jawba mereka, saya kira gak ada persoalan," tukasnya.

Oleh karena itu, dia mengapresiasi acara ini karena keamanan perbatasan juga memerlukan kontribusi masyarakat terdepan. Di lain pihak, Suparman selaku Camat Entikong merasa perlu untuk hadir dalam acara ini. Apalagi ada pengenalan lebih dalam mengenai patok batas negara. Diharapkan, masyarakat bisa ikut ambil bagian pengamanan dalam keseharian mereka.

"Sangat penting hadir di sini untuk mengajak, mengakomodir, menyatukan warga untuk lebih konsen menjaga tapal batas melalui patok," tandasnya.

Sebagai informasi, pembekalan ini berlangsung dalam dua sesi. Di sesi pertama, peserta yang berjumlah puluhan orang ini diberi pengenalan mengenai batas wilayah berupa patok yang terdapat di sekitar mereka. Setelah itu, pada acara yang berlangsung hingga 20 November ini, para peserta diajak langsung melihat dan mengidentifikasi patok tersebut yang berada di dekat PLBN Entikong serta mengenali wilayah dua negara di antara patok tersebut.

(mul/mpr)