Menlu Paparkan Isi KTT ASEAN-PBB dan KTT RCEP yang Diikuti Jokowi

Ibnu Hariyanto - detikNews
Minggu, 15 Nov 2020 15:05 WIB

Selanjutnya, dalam KTT RCEP, Retno mengatakan pertemuan kali ini merupakan hari yang bersejarah. Sebab, dalam pertemuan itu RCEP ditandatangani oleh 15 negara.

Retno menjelaskan RCEP merupakan inisiatif Indonesia sejak menjadi ketua pada tahun 2011. Retno menyebut Jokowi menyampaikan dengan ditandatanganinya RCEP bakal memberikan keuntungan bagi semua.

"Dalam pertemuan RCEP, Presiden menyampaikan hari ini adalah hari bersejarah karean dapat ditandatangani RCEP dan Presiden menyampaikan proses perundingan bukan hal yang mudah sejak keketuaan Indonesia tahun 2011. Presiden mengulangi membutuhkan waktu hampir satu dekade untuk bisa menyelesaikan perundingan ini. Ini bukti masih kuatnya komitmen kita tentang multiratelarlisme, ini menandai prinsip kita dalam perdagangan multirateralisme yang terbuka, adil dan menguntungkan semua. Dan lebih penting menurut Presiden memberikan harapan dan optimsme baru bagi pemulihan pasca pandemi dan sebuah kehormatan bagi Indonesia menjadi negara koordinator dalam proses perundingan ini," tuturnya.

Terakhir, Retno mengatakan dalam keseluruhan KTT ASEAN yang diikuti Indonesia, Jokowi menyampaikan tiga isu penting yang harus dijaga. Ketiga isu itu ialah pentingnya menjaga kerja sama bidang kesehatan, pentingnya saling koordinasi menjaga perekonomian dunia dan pentingnya menjaga stabilitas keamanan kawasan dan dunia.

"Secara konsisten presiden menyampaikan 3 isu. Pertama pesan mengenai pentingnya memperhatikan kerja sama di bidang kesehatan baik jangka pendek dan jangka panjangan yaitu membangun ketahanan kawasan dan dunia. Pesan kedua, mendorong kerja sama mengatasi dampak ekonomi dari pandemi. Kerja sama ini penting agar kondisi ekonomi dunia menjadi lebih baik tentunya tanpa mengorbankan ketaatan pada protokol kesehatan. Pesan ketiga penting terus menjaga stabilitas kawasan dan dunia. Hal ini terus ditekanan oleh pPresiden mengingat rivalitas kekuatan besar semakin menajam. Upaya untuk menangani pandemi dan ekonomi akan terhambat jika isu perdamaian dan stabilitas tidak terus dijaga," tutur Retno.


(ibh/gbr)