Machmud Rumagesan Sadarkan Tentara Belanda Asli Papua untuk Berontak

ADVERTISEMENT

Pahlawan Papua Barat

Machmud Rumagesan Sadarkan Tentara Belanda Asli Papua untuk Berontak

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 14 Nov 2020 12:01 WIB
PVK (Korps Sukarelawan Papua) mengambil bagian dalam pawai tradisional untuk pertama kalinya dalam sejarah, 30 April 1962. Ada Gubernur Nieuw Guinea Belanda, dr Platteel. (Kantoor voor Voorlichting en Radio Omroep Nieuw-Guinea)
Ilustrasi: PVK (Korps Sukarelawan Papua), 30 April 1962. Ada Gubernur Nieuw Guinea Belanda, dr Platteel. (Kantoor voor Voorlichting en Radio Omroep Nieuw-Guinea)

Dasar Rumagesan ini memang raja, kharismanya tetap moncer di mana saja. Buktinya, di penjara Hollandia, dia diangkat menjadi ketua para tahanan. Di tempat yang baru ini, dia lagi-lagi mengajak para narapidana untuk memberontak.

"Jika kamu telah keluar dari tempat ini kelak, sampaikan kepada teman seperjuangan yang cinta akan kemerdekaan agar tetap awas dan waspada. Lawan terus Belanda, walaupun engkau akan musnah karenanya. Berjuang terus sampai kita merdeka bersama-sama dengan Indonesia," demikian kata Rumagesan.

Rumagesan memang pandai berbicara dan mempersuasi orang banyak kala itu. Belanda sadar, Rumagesan terlalu berbahaya bila dibiarkan bergaul dengan tahanan lain. Akhirnya Rumagesan diisolasi setengah tahun.

Selanjutnya, Rumagesan divonis mati lewat putusan persidangan 2 Mei 1949 Nomor 125/1949. Ada yang menggelitik dalam putusan itu. Vonis menggunakan bahasa yang terbalik, entah karena salah menerjemahkan dari bahasa Belanda ke Melayu Papua atau memang karena salah tulis dan salah baca. Yang jelas, sang hakim membacakan putusan pengadilan bahwa Machmud Rumagesan dijatuhi hukuman 'mati tembak'. Ya benar, dihukum 'mati tembak'. Istilah yang aneh.

"Keputusan Bapak hakim saya terima, Bapak hakim harus menunggu saya sampai mati (meninggal) baru saya bisa ditembak karena dalam keputusan pengadilan disebutkan bahwa saya dijatuhi hukuman mati tembak, jadi saya mati dulu baru ditembak," kata Rumagesan menanggapi vonis itu.

Dalam penjara dan luar penjara bergejolak mendengar kabar vonis mati untuk Rumagesan. Pengacara dari Surabaya datang membela Rumagesan. Akhirnya keputusan hukuman mati berubah menjadi hukuman seumur hidup pada 5 Desember 1949. Namun Rumagesan dipindahkan ke penjara yang sangat jauh, yakni di Makassar, Sulawesi Selatan.

Singkat cerita, Konferensi Meja Bundar (KMB) mengubah konstelasi politik. Rumagesan dibebaskan dari penjara di Makassar. Dia kemudian menemui Presiden Sukarno di Jakarta.

Machmud Singgirei Rumagesan (Sumber: Buku Rosmaida Sinada dan Abdul Syukur)Machmud Singgirei Rumagesan (Sumber: Buku Rosmaida Sinada dan Abdul Syukur)

"Maka pada 24 Juni 1950, AB Karubuy mengantarkan Rumagesan menghadap Presiden Sukarno di Istana Negara, Jakarta. Saat pertemuan, Rumagesan menyampiakan terima kasih kepada Presiden Sukarno atas pembebasan itu dan membawa suara rakyat Irian Barat serta raja-rajanya agar pemerintah segera mewujudkan kesatuan negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke," tulis Rosmaida dan Abdul Syukur dalam bukunya.


(dnu/tor)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT