Buaya Diyakini Kembaran Manusia, Mitos Bugis-Makassar Jadi Asal-usulnya

Hermawan Mappiwali - detikNews
Kamis, 12 Nov 2020 19:07 WIB
Buaya diyakni warga di Makassar sebagai keturunan manusia
Buaya yang diyakini sebagai keturunan manusia. (Hermawan/detikcom)

Masih menurut kitab Lagaligo, Nurhayati mengungkapkan, manusia yang lahir dari pertemuan dewi Botting Langi (dunia langit) dan dewa dari Buri Liung (dunia laut) kemudian menghuni dunia tengah atau disebut Ale Lino. Manusia yang hidup di dunia tengah bertugas menjaga keseimbangan alam. Masyarakat Bugis-Makassar di masa silam juga percaya apa yang berasal dari langit dan bawah laut merupakan bagian dari dirinya, termaksud buaya yang diyakini sebagai kembaran.

"Jadi mereka percaya setiap manusia itu lahir di dunia ini ada kembarannya. Ada yang kembaran air, ada yang kembaran ular, tapi pada umumnya mereka menganggap kembarannya adalah buaya," ungkapnya.

Buaya diyakni warga di Makassar sebagai keturunan manusiaBuaya diyakini warga di Makassar sebagai keturunan manusia (Hermawan/detikcom)

Penulis buku 'Suara-suara dalam Lokalitas' itu menegaskan, kepercayaan masyarakat Bugis-Makassar bahwa setiap manusia memiliki kembaran buaya merupakan kepercayaan sebelum datangnya Islam di Sulsel, atau kepercayaan pra-Islam.

"Jadi itu tadi kepercayaan pra-Islam. Jadi mereka selalu mengaitkan dirinya dengan sang pemilik air, dan ketika itu kan manusia menyatu dengan alam. Setiap kali mereka lahir dia selalu mengaitkan dirinya dengan pemilik air," jelasnya.

Seekor buaya yang diyakini sebagai kembaran juga tidak disebut sebagai buaya, melainkan pemilik air atau Patanna Jene dalam bahasa Makassar.

"Dia (orang Bugis-Makassar) tidak mau sebut itu buaya, tapi Patanna Jene (di Makassar), kalau Bugis Punnae Wae (pemilik air). Dan dia percaya bahwa kalau jari-jarinya terdiri dari 5 itu bukan buaya, tapi manusia, iya (maksudnya buaya keturunan manusia)," paparnya.

Simak halaman selanjutnya>>>