Jokowi Center: Jokowi Mania Overacting Nilai Kinerja 10 Menteri Buruk

Audrey Santoso - detikNews
Sabtu, 07 Nov 2020 17:06 WIB
Menteri-menteri Kabinet Jokowi, menteri jokowi,
Foto: Kabinet Indonesia Maju (BPMI Setpres)
Jakarta -

Pernyataan Ketua Umum Jokowi Mania (Jo-Man) Immanuel Ebenezer soal 10 menteri dengan kinerja buruk dan layak dicopot disorot oleh relawan Presiden Joko Widodo (Jokowi) lainnya. Pernyataan Immanuel Ebenezer dinilai overacting dan berlebihan.

"Pernyataan Ketum Jo-Man itu terkesan overacting dan berlebihan. Sudah masuk kategori pernyataan yang offside dan tidak memiliki dasar legitimasi yang kuat. Tapi biarkan sajalah dia ngomong begitu. Itu haknya," kata Founder/Ketua Umum Relawan Jokowi Center Indonesia (RJCI), Raya Desmawanto, dalam rilis pers pada Sabtu (7/11/2020).

Raya memandang penilaian Jo-Man terhadap 10 menteri yang disebut berkinerja buruk dan layak diganti berdasarkan emosi belaka. Raya menantang Jo-Man menunjukkan dasar ilmiah dari penilaiannya terhadap kesembilan menteri.

"Beda dong metode riset ilmiah yang benar dengan ngomong di warung atau kafe, restoran. Itu cakap-cakap lepas emosional namanya. Kalau memang berani, buka dan ungkap proses surveinya, kapan, berapa sampel, dan apa metodenya. Survei ilmiah itu jelas sistematikanya," tegas Raya.

Raya menjelaskan isu pergantian menteri bukan hal baru. Ditambah, lanjut Raya, Presiden Jokowi memang sempat menunjukkan ketidakpuasannya terhadap kinerja para pembantunya.

Namun Raya berpendapat sikap Presiden Jokowi tak serta-merta dapat dijadikan dasar Immanuel Ebenezer menilai mana menteri yang kinerjanya baik dan buruk, mana menteri yang layak diganti atau tetap dipertahankan di kabinet Indonesia Maju.

"Kalau survei mereka hanya berdasarkan perasaan belaka dan hanya menyasar ditujukan ke beberapa menteri, ini namanya tidak adil dan cenderung bias, penuh spekulasi dan rawan kepentingan," ungkap Raya.

Menurut Raya, para menteri Kabinet Indonesia maju tengah bekerja ekstra selama pandemi demi mencapai target kerja. Dalam situasi ini, pernyataan Jo-Man dianggap tak etis.

"Apalagi para menteri saat ini sedang bekerja ekstra di tengah pandemi. Mereka tetap fokus mewujudkan target kerja. Kalau menuduh orang berkinerja buruk, seakan-akan Jo-Man sudah lebih hebat dan lebih tahu dari Presiden Jokowi sendiri," tutur Raya.

Raya menerangkan RJCI, yang kini telah bertransformasi menjadi organisasi Rumah Nawacita, menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden Jokowi selaku pemimpin kabinet perihal pergantian menteri.

"Kami hakulyakin Presiden Jokowi lebih tahu dan memahaminya. Kapan reshuffle dilakukan dan siapa menteri yang dianggapnya cocok. Kita selaku relawan tetap mengawal agar Presiden Jokowi mampu menuntaskan agenda dan janji politiknya secara baik," tutup Raya, yang kini menjabat Direktur Eksekutif Rumah Nawacita.

Sebelumnya relawan Jo-Man meminta Presiden Jokowi me-reshuffle 10 menteri. Jo-Man menyebut 10 nama menteri yang diminta diganti ini merupakan hasil survei via telepon. Namun metode surveinya tak dijabarkan secara lengkap. Ke-10 menteri itu adalah:

1. Mensesneg Pratikno
2. Menparekraf Wishnutama
3. Mendikbud Nadiem Makarim
4. Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil
5. Mentan Syahrul Yasin Limpo
6. Menteri KKP Edhy Prabowo
7. Menkominfo Jhony G Plate
8. Menkes dokter Terawan Agus Putranto
9. Menag Fachrul Razi
10. Menkum HAM Yasonna Laoly

Dari sepuluh nama menteri tersebut, yang paling disorot oleh Jo-Man adalah Mensesneg Pratikno. Sorotan ini terkait dengan permasalahan salah ketik UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang sudah ditandatangani oleh Jokowi.

"Kami Jokowi Mania begitu keras terhadap Pak Pratikno itu menjadi pertanyaan dan kami menjawab: Ya, Pratikno paling layak untuk hari ini di-reshuffle, paling layak bahkan untuk dipecat secara tidak hormat," kata Ketua Umum Jo-Man Emmanuel Ebenezer dalam jumpa pers di Hotel Sunbreez, Senayan, Jaksel, Jumat (6/11).

(aud/idh)