Jejak Heboh Fredrich Yunadi: Dari 'Benjol Bakpao' hingga Gugat Novanto Rp 2 T

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 15:21 WIB
Mantan kuasa hukum terpidana kasus korupsi proyek KTP elektronik Setya Novanto, Fredrich Yunadi menjalani sidang pembacaan putusan hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (24/4/2018). Majelsi hakim memutuskan memberikan hukuman kepada Fredrich 7 tahun penjara denda 500 juta rupiah dan subsider 5 bulan penjara. Grandyos Zafna/detikcom
Fredrich Yunadi (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Terpidana kasus merintangi penyidikan KPK, Fredrich Yunadi, kini menggugat mantan kliennya, Setya Novanto (Setnov). Saat membela Novanto, sepak terjang Fredrich penuh kontroversi, diwarnai drama benjol sebesar bakpao.

Sebagaimana diketahui, pada 2017, nama Fredrich Yunadi menjadi perbincangan publik. Fredrich membela habis-habisan Setya Novanto, yang terjerat kasus korupsi megaproyek e-KTP. Namun kini Fedrich justru menggugat mantan kliennya itu.

Begini sepak terjang Fredrich dari kasus merintangi penyidikan KPK hingga menggugat Setya Novanto seperti dirangkum detikcom, Jumat (3/11/2020):

17 November 2017

Tim KPK mendapatkan kabar bahwa Novanto akan memenuhi panggilan di KPK. Tiba-tiba pada malam harinya, Novanto dikabarkan mengalami kecelakaan.

Mobil yang ditumpangi Novanto menabrak tiang lampu. Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu pun dilarikan ke rumah sakit yang tak lain adalah RS Medika Permata Hijau. Saat itu Fredrich menyebut kliennya mengalami luka parah, ada benjolan sebesar bakpao di kepala Novanto.

"Benjol besar kepalanya. Tangannya berdarah semua. Benjol seperti bakpao," kata Fredrich.

Banyak kejanggalan di kasus kecelakaan itu sehingga KPK menyelidikinya.

13 Januari 2018

Fredrich ditahan KPK.

9 Februari 2018

Fredrich duduk di kursi pesakitan.

31 Mei 2018

Fredrich dituntut 12 tahun penjara. KPK menyebut kesalahan Fredrich adalah:

1. Fredrich membuat rencana Setya Novanto dirawat di rumah sakit agar tidak bisa diperiksa dalam kasus proyek e-KTP oleh penyidik KPK. Fredrich menghubungi dokter Bimanesh Sutarjo karena kliennya ingin dirawat di RS Medika Permata Hijau.

2. Fredrich meminta Bimanesh mengubah diagnosis hipertensi menjadi kecelakaan. Padahal Setya Novanto sebelumnya berada di gedung DPR dan kawasan Bogor.

Hal itu diakui dalam kesaksian dokter Bimanesh Sutarjo. Ia mengaku awalnya dihubungi Fredrich Yunadi untuk merawat Setya Novanto dengan diagnosis hipertensi. Namun tiba-tiba Bimanesh mengaku diminta Fredrich mengganti skenario, yaitu Novanto mengalami kecelakaan.

"Saya sedang tidur, terbangun dering telepon terdakwa, sore pukul 17.50 WIB ditelepon, (Fredrich bilang) 'Dok, skenario kecelakaan'," ucap Bimanesh.

28 Juni 2018

Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman 7 tahun penjara kepada Fredrich.

10 Oktober 2018

Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta menguatkan vonis 7 tahun penjara ke Fredrich.

Silakan klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2