Prancis Menghina Nabi Muhammad, Ustaz Adi Hidayat: Ada Penyakit Macronisme

Rosmha Widiyani - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 14:26 WIB
Macron memicu kontroversi ketika mengatakan bahwa islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.
Foto: AP Photo/Prancis Menghina Nabi Muhammad, Ustaz Adi Hidayat: Ada Penyakit Macronisme
Jakarta -

Gelombang protes atas tindakan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW terus muncul. Termasuk dari kalangan pemuka agama dan pesohor tanah air, salah satunya Ustaz Adi Hidayat (UAH).

UAH menyampaikan pendapatnya terkait Prancis menghina Nabi Muhammad dan Islam melalui Instagram di akun adihidayatofficial. Menurutnya saat ini terjadi virus atau pemikiran macronisme, merujuk pada nama Emmanuel Macron.

"Jadi ada sekarang penyakit macronisme, menggeneralisir segala perbuatan pada komunitas tertentu. Semua jenis kekerasan kita tolak dudukkan pada tempatnya. Kekerasan ini bisa banyak bentuknya," kata Ustaz Adi Hidayat.

Seperti umat lainnya, muslim juga menolak kekerasan dan hukum bisa berlaku sesuai ketentuan yang ada. Namun bentuk kekerasan ada banyak, salah satunya menghina Rasulullah SAW yang merupakan perbuatan sangat keji.

Menggambarkan Nabi Muhammad SAW lewat kartun atau penilaian buruk lainnya merupakan suatu bentuk kekerasan. Saat ini ada berbagai bentuk kekerasan yang tidak hanya terbatas pada fisik dan verbal.

Kontroversi di Prancis diawali tindakan seorang guru Samuel Paty yang menggunakan kartun terbitan Charlie Hebdo tahun 2015 saat mengajar. Tindakan ini menuai protes dari komunitas dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal.

Presiden Emmanuel Macron menilai kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sebagai kebebasan berpendapat. Dia juga mengatakan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis dengan posisi muslim makin sulit.

Terkait anggapan satu orang Islam buruk maka semuanya buruk, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan dengan mencontohkan peci. Jika ada satu peci yang tidak cocok dengan ukuran kepala, maka jangan salahkan bentuk penutup kepala atau calon pengguna.

Peci tidak lantas berkualitas buruk hanya karena tak cocok dengan ukuran kepala. Sama dengan ukuran kepala yang tak perlu disalahkan karena tidak cukup dalam peci. Cukup cari peci lain yang lebih cocok dengan ukuran kepala atau sebaliknya.

"Ingat tidak semua orang Prancis seperti ini. Jangan menggeneralisir sesuatu hingga menjadi hal yang lebih luas. Ini adalah cara berpikir kita," jelas Ustaz Adi Hidayat.

Selain Ustaz Adi Hidayat, berikut tokoh lain yang menyuarakan pendapat terkait Prancis menghina Nabi Muhammad:

1. Ustaz Felix Siauw

Ustaz Felix Siuaw menyampaikan pendapat lewat akun Instagram felixsiauw.

"Kaum Muslim tak pernah mencari musuh, tapi takkan lari ketika ditantang oleh musuh. Mungkin tidak hari ini Prancis akan melihat jawabannya, tapi suatu hari mereka pasti merasakannya

Tak ada satupun sebab tak berakhir dengan akibat. Prancis sudah memantik sebabnya. Dan mungkin tanpa sadar ini skenario Allah.

Agar Muslim memahami, persatuan itu mutlak agar bisa kuat dan diperhitungkan, dan disegani. Sebagaimana dulu Prancis tunduk pada telunjuk Khalifah kaum Muslim, Sultan Abdulhamid II."

2. Teuku Wisnu

Artis dan pengusaha Teuku Wisnu beropini lewat Instagram di akun teukuwisnu, repost dari atlet UFC Khabib Nurmagomedov.

"Kami adalah Muslim, kami mencintai Nabi Muhammad kami (damai dan berkah Allah besertanya) lebih dari ibu kami, ayah, anak-anak, istri dan semua orang lain yang dekat dengan hati kami. Percayalah, provokasi ini akan kembali kepada mereka, akhirnya selalu untuk yang takut akan Tuhan."

3. Arie Untung

Lewat Instagram ariekuntung, unggahan artis ini mendapat sorotan dari para netizen.

"Sambil ngingetin ini adab kebijakan negaranya ya guys. bukan orangnya, ini murni pemimpinnya aja, ga semua org prancis juga setuju sama presidennya. Emang Bukan salah tas2 ini tapi biar dia tau impact ekonomi yg dihasilkan atas penghinaan ini. Di muslim market brnd prancis skrg valuenya langsung 'murah,' kyk ga ada hal lain yg lebih penting aja yg lebih manfaat utk dibahas."

(row/erd)