Round-Up

8 Poin Buka-bukaan Gus Nur: Kasus Hina NU Hingga Ilmu Debus

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 06:21 WIB
Wawancara Eksklusif Gus Nur
Foto: 2odetik

2. Gelar Gus Berawal dari Aksi Debus

Gus Nur mengikuti jejak ayahnya yang lebih dulu menjadi pemain debus. Dia menjelaskan dirinya meninggalkan karier sebagai pemain debus setelah ayahnya wafat.

Gus Nur menceritakan, ayahnya dikenal dengan nama Tomjeg alias Tommy Jenggot karena jenggotnya yang panjang. Suatu masa dulu, ayahnya dan dirinya diundang main debus di sebuah acara. Menurutnya oleh si pengundang acara itu lah ayahnya diberi gelar 'gus' karena dinilai hebat atraksi debusnya.

Dari sejak itu ayahnya dipanggil dengan nama Gus Tomjeg. Karena Gus Nur selalu mendampingi ayahnya bermain debus, dia jadi ikut-ikutan dipanggil sebagai Gus Nur.

"Di situ itu saya ikut-ikutan dipanggil Gus Nur," jelas dia.

"Dari mana 'gus', nggak punya (garis keturunan) nama Kiai, oke saya luruskan jadi sejak saat itulah saya menikmati panggilan gus. Saya nggak minta, datang sendiri. Tetapi saya pertanggungjawabkan," sambungnya.

3. Hanya Sekolah Hingga SD, Enggan Kejar Paket C

Gus Nur mengaku memang tidak mengenyam pendidikan agama secara formal meski dia mengisi ceramah di berbagai lokasi dan aktif berdakwah lewat media sosial, seperti YouTube. Gus Nur mengatakan dirinya memang tidak mementingkan gelar pendidikan. Dia enggan ikut program penyetaraan pendidikan meski diakuinya pernah disarankan sejumlah orang.

"Saya sekarang sudah di titik 'nggak penting gelar'. Saya sudah nggak butuh gelar, sebenarnya gitu kan. Berapa kali orang nawari saya untuk Kejar Paket C, apalah, sudah punya gelar minimal S.Ag (sarjana agama), nggak, saya nggak butuh. Kan saya lulus SD saja," ucap Gus Nur.

Gus Nur mengaku masa kecil dan remajanya memang serba sulit. Dia sibuk mengikuti sang ayah yang berprofesi sebagai pemain debus. Saking rutinnya mengikuti ke mana sang ayah pergi atraksi debus, dia tak sempat melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP).

Meski hanya mengenyam bangku pendidikan SD, Gus Nur menyebut dirinya bukannya tidak belajar. Dia mengklaim banyak belajar secara otodidak, termasuk mempelajari agama. Gus Nur mengaku telah menulis 13 buku, bahkan menciptakan lagu.

"Tapi saya nulis buku. Sudah 13 judul saya tulis. Saya ciptakan lagu, makanya jangan batasi imajinasi saya," sambung dia.

4. Yakin Lebih Kuasai Ilmu Kehidupan Dibanding Lulusan Pesantren

Gus Nur mengatakan dirinya memang tidak pernah menimba ilmu di pondok pesantren. Dia mempelajari ilmu agama Islam secara otodidak.

"Nggak (mondok di pesantren, red). Kan di dalam ilmu di dunia ini, kan ada namanya otodidak," kata Gus Nur saat wawancara eksklusif dengan detikcom di Bareskrim, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2020).

Gus Nur menyebut ada orang yang mengenyam pendidikan agama di pesantren dan hafal ratusan kitab, tapi tak bisa memahami ilmu kehidupan. Sementara dia mengklaim dirinya meski tak pernah menjadi santri namun mampu membangun pesantren.

"Hidup ini relatif. Banyak orang dari kecil mondok, hafal ratusan kitab, tapi dia tidak menguasai ilmu kehidupan. Contoh begitu dapat tanah, dapat pesantren, nggak berkembang itu kan," ujar Gus Nur.

"Saya nggak mondok, tapi saya dikasih Allah skill pintar cari uang. Makanya saya bisa bangun pesantren 3 lantai, 300 santri gratis semua, saya tanggung semua biayanya, ustaz-ustaznya juga itu. Ini belum tentu kiai yang mondok puluhan tahun tuh belum bisa, hidup itu kan begitu melihatnya," sambung dia tanpa menjelaskan lebih rinci di mana pesantren yang dimaksud.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4