Sumpah Pemuda

Bahasa Indonesia Jadi Pemersatu Meski Para Pemuda Masih Terbata-bata

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 07:49 WIB
Museum Sumpah Pemuda menyimpan berbagai foto-foto dan benda-benda yang berhubugan dengan pergerakan nasional pemuda Indonesia.
Diorama Sumpah Pemuda 1928 (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Sumpah Pemuda menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Padahal, peserta Kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda masih terbata-bata menuturkan Bahasa Indonesia saat itu.

Sumpah Pemuda dilahirkan dari Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Kongres Pemuda II tak dapat dilepaskan dari Kongres Pemuda pertama yang digelar pada dua tahun sebelumnya.

Pada 30 April-2 Mei 1926 di Batavia, digelarlah 'Kerapatan Besar Pemuda' yang kemudian dikenal sebagai Kongres Pemuda I, dihadiri oleh wakil organisasi pemuda Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Studerenden Minahasaers, Jong Bataks Bond, hingga Pemuda Kaum Theosofi.

B Sularto dalam buku 'Dari Kongres Pemuda Indonesia Pertama ke Sumpah Pemuda' menerangkan bahwa Kongres Pemuda I diisi dengan pidato-pidato dari enam tokoh muda. Mereka adalah Sumarto, Bahder Johan, Mohammad Yamin, Jaksodipura, Paul Pinontoa, dan Nona Stien Adam. Semuanya memakai bahasa Belanda.

Bahasa Belanda adalah bahasa pendidikan pada saat itu. Bahasa Indonesia belum dikenal, paling banter adalah bahasa Melayu. Penggunaan bahasa Belanda dalam kongres juga dimaksudkan agar polisi yang mengawasi tidak repot-repot menyimak. Saat itu kongres diawasi oleh Kepala Dinas Rahasia Kepolisian Hindia Belanda, Komisaris Kepala bernama Visbeen.

Pada Kongres Pemuda I itulah, muncul usulan dari Mohammad Yamin agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan. Usulan poin ini kemudian terus berproses hingga mencapai bentuknya yang final di Kongres Pemuda II, menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Muhammad Yamin saat itu adalah perwakilan Jong Sumateranen Bond (Perkumpulan Pemuda Sumatera dalam bahasa Belanda).

Terbata-bata ber-Bahasa Indonesia

Kongres Pemuda II digelar pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia. Para pemuda kumpul lagi di berbagai lokasi. Mereka berasal dari berbagai daerah, terdiri dari berbagai macam suku dan budaya, dan sedang menempuh studi. Mereka ini orang pribumi terdidik yang mengenyam pendidikan ala Belanda (karena saat itu adalah pemerintahan Hindia-Belanda), bahasanyapun bahasa Belanda.

Ketua Panitia Kongres Pemuda II adalah Soegondo Djojopuspito, pemimpin Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI). Pria kelahiran Tubah Jawa Timur itu baru berumur 22 tahun saat itu, mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshoogeschool te Batavia).

Tonton video 'Gaya Para Menteri hingga Ketua DPR Bacakan Puisi':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2