Pertamina EP Sukses Lepasliarkan Owa Jawa ke Alam Bebas

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 23:30 WIB
Owa Jawa
Foto: Pertamina
Jakarta -

Hari ini merupakan momen bahagia bagi Ukong dan Gomey. Pasalnya, pada hari ini keduanya dapat hidup di habitat alam bebas, tepatnya di Kawasan Gunung Puntang. Ukong dan Gomey merupakan pasangan keluarga Owa Jawa yang telah siap untuk dilepasliarkan setelah melalui masa habituasi selama tiga bulan.

Kegiatan pelepasliaran ini merupakan buah manis dari upaya konservasi Owa Jawa yang dilakukan oleh Pertamina EP Asset 3 Subang Field, bekerja sama dengan Yayasan Owa Jawa serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

"Kerja sama konservasi Owa Jawa telah dilakukan oleh Pertamina EP Asset 3 Subang Field sejak tahun 2013," ungkap Field Manager Pertamina EP Asset 3 Subang Field Djudjuwanto, dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2020).

Djudjuwanto mengatakan Pertamina EP memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap konservasi lingkungan dan satwa liar. Oleh karena itu, kegiatan konservasi alam dan lingkungan terus digiatkan oleh Pertamina EP.

Kegiatan pelepasliaran juga merupakan bagian yang krusial dalam tahapan pelestarian. Tantangan konservasi pun semakin tinggi, mengingat Owa Jawa telah hidup di lingkungan alam bebas yang luas dan memastikan satwa-satwa ini untuk dapat berkembang biak, kawasan huniannya bebas dari perambahan hutan serta tidak menjadi sasaran dari perburuan liar.

Djudjuwanto mengatakan untuk menunjang keberhasilan terhadap konservasi Owa Jawa, Pertamina EP Asset 3 Subang Field telah melakukan kegiatan-kegiatan pendukung lainnya seperti edukasi Owa Jawa ke sekolah-sekolah, hingga pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan habitat Owa Jawa.

"Kegiatan konservasi kami laksanakan secara holistik, dalam artian hal-hal yang menjadi pendukungnya juga turut kita giatkan, untuk konservasi Owa Jawa, kami juga membentuk program Melintang (Masyarakat Peduli Alam Puntang)," ungkap Djudjuwanto.

Menurut Djudjuwanto, dalam program Melintang, Pertamina EP Asset 3 Subang Field merangkul masyarakat yang tadinya bermata pencaharian berburu dan merambah hutan untuk merubah kebiasaannya dengan melalui kegiatan usaha kopi dan wisata sehingga mampu meningkatkan perekonomiannya melalui usaha tersebut.

Djudjuwanto pun mengatakan kegiatan konservasi Owa Jawa dan juga pemberdayaan masyarakat, keduanya bisa berjalan dengan sangat baik. Adapun Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan jenis primata dengan estimasi populasi sekitar 2000-4000 individu di dunia.

Oleh karena itu, Owa Jawa pun masuk ke dalam daftar merah IUCN dengan status vulnerable atau terancam punah. Persebaran Owa Jawa kini hanya terbatas di Jawa bagian barat, dan menjadikannya spesies Owa yang paling langka di dunia.

Selain Ukong dan Gomey, terdapat empat individu Owa Jawa lainnya yang turut dilepasliarkan secara bertahap pada hari berikutnya. Owa Jawa lainnya tersebut yakni Labuan dan Lukas, serta Nofri dan Yossi.

Keenam satwa ini awalnya merupakan peliharaan masyarakat di Jawa Barat dan Banten yang diserahkan secara sukarela, serta hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang dititipkan ke Yayasan Owa Jawa untuk direhabilitasi di Javan Gibbon Center Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Djudjuwanto mengatakan Pertamina EP Asset 3 Subang Field telah melakukan habituasi dan melepasliarkan dengan total sebanyak tiga puluh individu Owa Jawa di Kawasan Gunung Puntang sejak tahun 2013.

Dalam kegiatan rehabilitasi, habituasi hingga pelepasliaran, hal yang dilakukan adalah upaya-upaya untuk mengembalikan sifat-sifat liar Owa Jawa seperti mampu mencari makan sendiri, takut terhadap manusia, memiliki kemampuan untuk menghindar dari predator, dan tentunya berkembang biak.

Keputusan pelepasliaran keenam individu Owa Jawa ini pun didasarkan oleh pengamatan tim Yayasan Owa Jawa dimana dalam aktivitas hariannya telah menyerupai aktivitas Owa Jawa liar.

Setelah dilakukan pelepasliaran, Owa Jawa secara alami akan menjelajah lalu setiap keluarga akan memiliki teritorinya masing-masing. Untuk itu, monitoring yang intensif juga dilakukan selama satu tahun, dengan melewati dua musim yaitu hujan dan kemarau untuk melihat perkembangan Owa Jawa dialam bebas.

Keberhasilan pelepasliaran ditandai apabila Owa Jawa mampu menemukan dan mengkonsumsi pakan alami di hutan, tidak terjadi pemisahan antarindividu, mampu membentuk teritori, hingga keberhasilan berkembang biak di alam bebas.

"Kami dari Pertamina EP Asset 3 berharap melalui seluruh kegiatan yang dilakukan, keberadaan Owa Jawa dapat terus lestari dan keseimbangan alam tidak terganggu. Selain itu semoga Pertamina EP dapat menginspirasi seluruh pihak untuk dapat bersinergi bersama, khususnya dalam bidang konservasi sumber daya alam," pungkas Djudjuwanto.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bogor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dadang Suryana mengatakan upaya pengawasan harus terus dilakukan selama satu tahun ke depan setelah Owa Jawa kembali ke alam.

"Ini hal yang penting, setelah pelepasliaran maka Owa Jawa harus terus diawasi untuk memastikan mereka berkembang biak, tidak diburu untuk jadi hewan peliharaan, hutan tidak dirambah manusia untuk perkebunan dan perumahan. Kualitas ekosistem hutan harus ditingkatkan," jelas Dadang.

Menurut Dadang, Owa Jawa bukanlah hewan peliharaan manusia. Mereka memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas ekosistem lingkungan. Owa Jawa akan menyebarkan biji-bijian dari buah yang mereka makan, dan secara tidak langsung menjaga kelestarian hutan. Keberadaan Owa Jawa adalah indikator kualitas hutan yang baik.

"Dengan adanya Owa di suatu hutan, kualitas hutan untuk hewan lain juga akan lebih baik," pungkasnya.

Sebagai informasi, dengan program Melintang, Pertamina EP Asset 3 Subang Field merangkul masyarakat yang awalnya berprofesi sebagai pemburu dan merambah hutan, kini bertransformasi menjadi pengusaha kopi dan tempat wisata. Berkat program ini, Pertamina EP Subang Field meraih Nusantara Award 2020 dalam kategori Pengembangan Ekonomi Komunitas: Tinggalkan Berburu Liar dan Meramba Hutan, Sukses Jualan Kopi yang diberikan oleh The La Tofi School Of CSR pada Kamis (22/10) lalu.

(ega/ega)