Kejagung Periksa 7 Saksi Terkait Kasus Korupsi Jiwasraya

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 20:32 WIB
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Hari Setiyono
Foto: Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Hari Setiyono. (Wilda-detikcom)
Jakarta -

Kejagung hari ini memeriksa tujuh saksi terkait kasus Jiwasraya. Selain itu Kejagung juga memeriksa satu perwakilan tersangka korporasi kasus Jiwasraya.

"Tim Jaksa Penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung RI, kembali melakukan pemeriksaan 7 (tujuh) orang saksi dan 1 (satu) orang wakil tersangka korporasi yang terkait dengan Perkara Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengelolaan Keuangan dan Dana Investasi pada PT. Asuransi Jiwasraya (persero) yang dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: Print-33/F.2/Fd.1 /12/2019 tanggal 27 Desember 2019 maupun untuk pemeriksaan saksi perkara dengan tersangka korporasi dan tersangka pribadi dalam hal ini Pieter Rasiman," kata Hari dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2020).

"Orang yang mewakili untuk tersangka korporasi PT Maybank Asset Management, yaitu Raja Edham Zulkarnaen bin Raja Zolkuply selaku Direktur PT Maybank Asset Management," sambungnya.

Tujuh orang saksi yang diperiksa antara lain saksi untuk tersangka Pieter yakni Dwi Nugroho, Catelin Khariose dan Freddy Gunawan selaku Direktur PT Balikpapan Property Semesta.

Kemudian, saksi untuk tersangka korporasi PT OSO Management Investasi yang diperiksa Kejagung ialah Mercy Iftajarina, Hendra Brata dan Sri Saptawati Puspita. Terakhir, saksi untuk tersangka korporasi PT Jasa Capital Asset Management yaitu Moudy Mangkey.

"7 (tujuh) orang saksi dan 1 (satu) orang wakil tersangka korporasi sebagai pengurus maupun sebagai karyawan korporasi atau perusahaan manager investasi, keterangan yang diambil dari saksi dianggap perlu untuk mengungkap sejauh mana peran para saksi dalam menjalankan perusahaannya dan kaitannya dengan jual beli saham dari pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang terjadi di Bursa Efek Indonesia," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan pada Senin (12/10), Kejagung menetapkan satu tersangka baru dalam skandal kasus Jiwasraya. Tersangka anyar itu merupakan Direktur Utama PT Himalaya Energi Perkasa, Pieter Rasiman.

"Telah menetapkan tersangka atas nama Pieter Rasiman selaku pihak Direktur Utama PT Himalaya Energi Perkasa," kata Hari kepada wartawan di Gedung Bundar Jampidsus Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (12/10).

Hari menerangkan Pieter diduga berafiliasi melakukan tindak pidana korupsi dengan terdakwa Jiwasraya. Mereka ialah Joko Hartono Tirto dan Heru Hidayat.

"Adanya hubungan bersama melakukan tindak pidana korupsi dengan para tersangka atau terdakwa yang sudah disidangkan. Tersangka ini diduga melakukan kerjasama dengan terdakwa antara lain Joko Hartono Tirto dan Heru Hidayat," ujar Hari.

Hari mengatakan tersangka disangkakan melakukan tindak pidana Pasal 2 ayat 1 subsider pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi.

Kemudian disangkakan juga melanggar pasal pencucian uang Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak pidana Pencucian Uang juncto Pasal 55 ayat ke (1) KUHP. Pasal 4 UU Nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Tersangka ditahan selama 20 hari terhitung mulai hari ini. Tersangka ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Disisi lain, Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram), Heru Hidayat, divonis penjara seumur hidup. Benny diputus bersalah melakukan korupsi dan memperkaya diri bekerja sama dengan tiga mantan pejabat Jiwasraya senilai Rp 16 triliun.

Menurut hakim, perbuatan Benny Tjokro, Heru Hidayat dkk terkait pengelolaan investasi saham Jiwasraya telah membuat negara merugi. Total kerugian negara mencapai Rp 16 triliun.

(idn/idn)