Politikus Golkar: Observatorium Cari Alien di NTT Terbesar di Asia Tenggara

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 17:44 WIB
Dyah Roro Esti, caleg DPR terpilih dari Golkar, usia 26 tahun. (Dok Pribadi)
Foto: Dyah Roro Esti, (Dok Pribadi)
Jakarta -

Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) membangun fasilitas Observatorium Nasional di Timau, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan anggaran program senilai Rp 340 miliar. Politikus Golkar Dyah Roro Esti mengatakan pembangunan observatorium sudah direncanakan sejak lama.

"Jadi pembangunan Observatorium di Timau, Kupang, NTT ini sudah berjalan kalau tidak salah sejak tahun 2018 yang diharapkan akan selesai pada tahun 2021," kata Dyah kepada wartawan, Selasa (27/10/2020).

Anggota Komisi VII DPR RI ini menjelaskan program pembangunan observatorium adalah program berkelanjutan sejak sebelum pandemi Corona mewabah di Tanah Air. Ia pun tak mempermasalahkan soal anggaran tersebut.

"Berkaitan dengan urgensi, berhubung ini merupakan continuation dari sebuah proyek yang sudah cukup lama direncanakan sebelum masa pandemi dan sedang berjalan saya rasa tidak ada masalah," kata Dyah.

Dyah mendukung dan menyambut baik kehadiran dari observatorium tersebut. Ia berharap Indonesia dapat menjadi pusat Observatorium terbesar di Asia Tenggara.

"Alangkah baiknya negara Indonesia mempunyai pusat observatorium yang diandalkan seperti ini mengingat bahwa ini merupakan observatorium terbesar di Asia Tenggara," ujar Dyah.

Menurut Dyah, kehadiran Observatorium tidak semata-mata hanya untuk meneliti kehidupan di luar angkasa atau alien. Namun, Observatorium dapat menjadi tempat penelitian, destinasi wisata serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

"Dampak positifnya observatorium: riset, destinasi wisata, ada nilai ekonominya, dan peningkatan kualitas SDM. Jadi bukan di emphasize solely mengenai alien atau UFO-nya... itu hanya salah satu bagian dari tujuan riset," jelasnya.

Dyah pun menyoroti Observatorium di Amerika dan Inggris yang menjadi objek wisata. Ia berharap observatorium di Tanah Air dapat meningkatkan daya tarik Indonesia di mata dunia.

"Mudah-mudahan ini dapat meningkatkan kedayatarikan masyarakat Indonesia atau dunia untuk berkunjung dan mempelajari peristiwa-peristiwa angkasa. Sudah waktunya kita budayakan hal tersebut. Budaya ketertarikan untuk belajar hal yang baru atau for leisure and not a chore," ungkapnya.

Lebih lanjut, Dyah tidak ingin wilayah antariksa Indonesia dimanfaatkan oleh kekuatan asing. Menurutnya, sudah ada Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan.

"Kita juga punya UU Keantariksaan... yaitu bagaimana kita menjaga antariksa di atas bumi Indonesia, termasuk untuk menjaga agar tidak dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan asing," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, LAPAN telah membangun fasilitas Observatorium Nasional di NTT untuk mencari kehidupan di luar bumi. LAPAN merencanakan program pengamatan transient project mulai tahun ini.

"LAPAN akan merencanakan program pengamatan transient objects mulai tahun 2020. Eksoplanet dan supernova adalah contoh objek transien. Dengan kata lain, kami akan mulai mencari dan mempelajari eksoplanet dengan lebih sistematis. Salah satu arahnya memang menjawab apakah ada kehidupan di luar sana," ujar Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN Rhorom Priyatikanto kepada wartawan, Selasa (27/10/2020)

Soal anggaran, Rhorom mengatakan, untuk teleskop 50 cm, harganya kira-kira mencapai Rp 1 miliar. Program ini sendiri mendapat anggaran sekitar Rp 340 miliar.

"Kalau untuk teleskop 50 cm, kira-kira sekitar Rp 1 M. Kurang-lebih sekitar Rp 340 M yang bersumber dari APBN," kata Rhorom.

(hel/gbr)