Alasan Pemerintah Tambah Dana BOS di Daerah Terpencil Tahun Depan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 09:55 WIB
Pesan Damai Dari Guru di Perbatasan Indonesia 

Gilang Rickat Trengginas (kiri) dan Dani Kurniawan (kanan) mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal dan ditempatkan di Sekolah MGR Gabriel Manek, Dusun Lahurus, Desan Fatulotu Kecamatan Lasiolat, Atambua, NTT, kemarin. Mereka berdua yang berasal dari UIN Yogyakarta sudah 6 bulan terakhir menjadi guru bantu ditempat ini. Grandyos Zafna/detikcom

-. Meski mereka berdua muslim, toleransi di daerah yang mayoritas non muslim ini sangat tinggi.

-. Jika ingin menjalankan ibadah shalat Jumat, kedua guru ini harus menuju kota atambua.

-. Sebanyak 143 murid bersekolah ditempat ini.

-. Mereka tinggal ditempat Tetua Adat Nai Lasiolat Pak Wilhelmus Atamanek.
Ilustrasi sekolah di daerah tapal batas yang masuk kategori daerah 3T. Foto diambil sebelum pandemi COVID-19. (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah bakal meningkatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia tahun 2021. Skema perhitungan bantuan BOS juga akan diubah bukan hanya berdasarkan jumlah siswa.

"Untuk pertama kalinya, dana BOS perhitungannya bukan hanya unit cost, bukan hanya jumlah siswa, di mana situasi sekarang begitu banyak daerah 3T, tidak dapat bantuan cukup karena perhitungannya cuma jumlah siswa saja. Tidak ada perhitungan apakah unit cost di daerah luar dan tertinggal lebih mahal, tidak perhitungan anak-anak sekolah lebih kecil muridnya dirugikan dengan skema itu," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dalam diskusi di akun YouTube Kemenkeu, seperti dilihat, Selasa (27/10/2020).

Nadiem menerangkan sejauh ini sekolah yang berada di daerah 3T dirugikan oleh skema BOS jika dihitung berdasarkan jumlah siswa. Dalam meningkatkan dana BOS, Kemendikbud berkolaborasi dengan Kemenkeu.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim hadiri acara penyerahan DIPA 2020 dari Jokowi. Penyerahan itu digelar di Istana Negara.Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. (Rengga Sancaya/detikcom)

"Kami dan Kemenkeu bekerja sama menemukan cara agar berpihak ke daerah terluar dan tertinggal di Indonesia agar mereka mendapatkan unit cost per anaknya jauh lebih besar. Jadi mulai tahun 2021, daerah 3T kita, per anak akan menerima secara signifikan lebih besar daripada sekolah-sekolah yang besar, yang memang (sekolah) di kota-kota lebih mapan," katanya.

Skema penghitungan dana BOS tersebut akan didasari dua variabel. Variabel pertama adalah indeks kemahalan konstruksi (IKK). Variabel kedua adalah indeks besaran peserta didik (IPD).

"Ini reformasi kalkulasi dana BOS yang cukup luar biasa dan ini akan transformatif, menambahkan hampir sekitar Rp 3 triliun dana BOS untuk bisa mengakomodasi. Jadi, tidak ada yang dikurangi, tapi di daerah 3T dan sekolah-sekolah kecil, di pulau-pulau, daerah terluar, itu akan meningkat per siswanya karena tiap sekolah ada fixed cost-nya," jelas Nadiem.

Di samping itu, Nadiem mengatakan dana BOS kini disalurkan langsung Kemenkeu kepada sekolah penerima. Pemerintah juga memberikan relaksasi penggunaan dana BOS di tengah pandemi virus Corona (COVID-19).

"Banyak sekali kepala sekolah merasa begitu terbantu adanya reformasi gabungan Kemendikbud dan Kemenkeu untuk dana ini langsung ditransfer ke sekolah. Kedua, saat urgensi krisis ini, dana BOS yang tadinya disekat-sekat, ada limitnya untuk guru honorer, ada limitnya untuk yang lain-lain, di mana kebutuhan sekolah begitu variatif di daerah, apalagi di masa krisis seperti ini, makanya kita melakukan relaksasi dana BOS," terangnya.

Simak juga video 'Nadiem akan Ubah Skema Perhitungan Dana BOS':

[Gambas:Video 20detik]



(dkp/aud)