Dosen UMI Makassar Jadi Korban Salah Tangkap, Kapolda: Kami Investigasi

Hermawan Mappiwali - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 22:43 WIB
Kapolda Sulsel Irjen Merdysyam (Hermawan-detikcom).
Kapolda Sulsel Irjen Merdysyam (Hermawan/detikcom)
Makassar -

Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Aan Mamontoh, diduga jadi korban salah tangkap hingga dianiaya petugas kepolisian dalam demo omnibus law yang berujung ricuh. Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel) Irjen Merdysyam memastikan pihaknya menginvestigasi dugaan tersebut.

"Kami juga sudah investigasi terhadap permasalahan ini," kata Irjen Merdy dalam konferensi pers di Mapolrestabes Makassar, Jalan Ahmad Yani, Makassar, Senin (26/10/2020).

Namun Irjen Merdy juga mengklarifikasi, apa yang coba dilakukan anggotanya adalah respons terhadap demo omnibus law UU Cipta Kerja di Makassar yang berlangsung ricuh pada Kamis (8/10) lalu. Dia mengatakan anggotanya memberi respons penindakan terhadap aksi perusakan di dalam halaman kantor Gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar.

"Pada saat itu sudah terjadi perusakan dan pembakaran 3 motor di dalam halaman kantor Gubernur, polisi mengambil langkah untuk mencegah terjadinya kerusakan dan kerugian dan korban yang lebih banyak," kata Merdy.

Merdy menyebut respons kepolisian atas insiden kericuhan berupa perusakan dan pembakaran sepeda motor hingga videotron tersebut sudah sesuai prosedur.

"Kami melakukan upaya-upaya berdasarkan protap, prosedur yang sudah ada, kami lakukan dengan public address pertama melakukan imbauan dari langkah-langkah yang persuasif sampai tindakan tegas terukur," beber Merdy.

Namun Irjen Merdy mengatakan pihaknya masih menginvestigasi dugaan kekerasan yang dialami Aan. Investigasi itu disebut juga sebagai bentuk akomodasi dari aduan korban dan surat dari Komnas HAM mengenai kejadian ini.

"Itu yang kami jawab tadi, kita sedang melakukan upaya-upaya investigasi," kata Merdy.

Diketahui, Aan melaporkan pelanggaran etik dan pidana penganiayaan ke Polda Sulsel yang diduga dilakukan polisi. Laporan dugaan penganiayaan yang dialami Aan bernomor LPB/330/X/2020/SPKT POLDA SULSEL. Sementara laporan Aan soal kode etik diketahui bernomor LP/49-B/X/2020/Subbag Yanduan.

"Iya, kemarin (di) Krimum dan etik yang saya Laporkan," kata Aan kepada detikcom, Selasa (13/10).

(jbr/jbr)