'Top Cleaner' Pemicu Kebakaran Besar Tak Punya Izin Edar, Ini Kata Kejagung

Wilda Nufus - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 16:45 WIB
Gedung Kejaksaan Agung Habis Terbakar
Gedung Kejaksaan Agung Habis Terbakar. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Bareskrim Polri menyebut bahan pembersih merek Top Cleaner yang menjadi akseleran penyebab kebakaran Kejagung cepat menjalar tidak mempunyai izin edar. Kejagung pun angkat bicara.

"Terkait dengan top cleaner ya, tentu itu tersendiri, permasalahan tersendiri, kenapa itu juga masih dijual, tentu nanti akan, yang jual juga siapa, produksinya siapa, yang seharusnya sudah dilarang itu saya kira permasalahan tersendiri," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Hari Setiyono kepada wartawan di Kejagung, Jalan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (26/10/2020).

Hari mengatakan penyidikan kebakaran Kejagung sejatinya telah dilakukan penyidik Bareskrim Polri. Hari menyebut dalam penjelasan Polri sudah dikatakan adanya unsur kealpaan dalam kebakaran gedung utama Kejagung itu.

"Tetapi kemarin penyidik sudah menyampaikan ada unsur kealpaan di situ," kata Hari.

Sementara itu, terkait dengan pekerjaan wallpaper disebutkan hanya sebagai aksesoris saja. Menurut Hari, pemasangan wallpaper tidak perlu izin karena tidak mengubah fungsi gedung sebagai cagar budaya.

"Terkait apa yang dilakukan tadi dikatakan kalau itu gedung cagar budaya itu tidak mengubah bentuk hanya menambah aksesoris," tuturnya.

Saat ini jaksa peneliti sedang menunggu berkas perkara 8 tersangka dari penyidik Bareskrim Polri. Penyidikan terkait kebakaran masih berlangsung di Korps Bhayangkara itu.

"Perkembangan selanjutnya tentu jaksa peneliti menunggu berkas perkara dari penyidik Bareskrim Polri," tandasnya.

Diketahui, Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan ada delapan orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kebakaran Kejagung. Delapan orang itu ditetapkan sebagai tersangka karena kealpaan.

"Menetapkan delapan tersangka dalam kasus kebakaran ini karena kealpaannya," kata Argo saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (23/10).

"Kedelapan tersangka itu memiliki peran berbeda dalam kasus kebakaran Kejagung. Pertama adalah inisial T, kedua inisial H, ketiga inisial S, yang keempat adalah K, yang tukang ya," lanjut dia.

Pekerja lain yang mengerjakan wallpaper di Kejagung pun turut menjadi tersangka. Selain itu, mandor di Kejagung juga jadi tersangka lantaran tidak mengawasi anak buahnya.

Polri mengungkap api kebakaran gedung utama Kejagung menjalar dengan cepat karena ada cairan pembersih merek top cleaner yang ditemukan di dalam gedung. Polri mengatakan proses pengadaan cairan pembersih itu sudah berlangsung selama dua tahun.

"Bahwa proses pengadaan yang dilakukan yang kemudian sudah terjadi kurang lebih 2 tahun," kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirttipidum) Bareskrim Polri, Brigjen Ferdy Sambo.

Sambo menjelaskan bahan pembersih Top Cleaner yang digunakan Kejagung tidak sesuai dengan ketentuan dan tidak memiliki izin edar. Cairan pembersih itu ditemukan di setiap lantai gedung utama Kejagung saat penyidikan kebakaran dilakukan.

(idn/idn)