Gempa Pangandaran M 5,6 Terasa hingga Yogyakarta, Ini Analisis BMKG

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 16:18 WIB
Rumah warga di Tasimlaya alami kerusakan imbas gempa yang mengguncang Pangandaran.
Rumah rusak imbas gempa M 5,9 yang guncang Pangandaran. (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 yang berpusat di Pangandaran, Jawa Barat pada Minggu (25/10) pagi terasa hingga Yogyakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait kejadian ini.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan sebanyak 29 rumah rusak dan 3 orang terluka akibat gempa ini. Dia menduga gempa dipicu adanya patahan atau deformasi pada badan Lempeng Indo-Australia yang menghujam ke bawah Lempeng Eurasia.

"Melihat kedalaman gempa ini 62 km, gempa ini diduga dipicu oleh adanya patahan atau deformasi pada badan lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Bidang kontak antar 2 lempeng ini berada di kedalaman sekitar 50 km, sehingga jika gempa ini memiliki kedalaman 62 km maka pusat gempa ini berada di bawah bidang kontak antarlempeng," jelas Daryono lewat keterangan tertulisnya, Senin (26/10/2020).

Gempa Pangandaran, lanjut Daryono, masuk kategori intraplate earthquake. Gempa jenis ini akan memberikan dampak guncangan yang lebih besar dari semestinya.

Bahkan gempa dirasakan hingga Semarang, Jawa Tengah, dan di Yogyakarta.

"Salah satu ciri gempa 'intraplate earthquake' ini akan memberikan dampak guncangan (ground motion) yang lebih besar dari yang semestinya. Fakta ini tampak pada dampak gempanya, dengan kekuatan 5,6 yang mampu menyebabkan kerusakan 29 rumah rusak dengan spektrum guncangan yang luas mencapai Semarang dan Yogyakarta," jelas Daryono.

Daryono mengungkap gempa Pangandaran tidak berpotensi tsunami. Dia juga menjelaskan gempa ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas gempa di selatan Jawa Barat yang akhir-akhir ini mengalami peningkatan.

Selain itu, Daryono turut mengungkap fakta lokasi pusat gempa Pangandaran dekat dengan pusat gempa pembangkit tsunami Pangandaran tahun 2006 silam.

"Lokasi pusat gempanya relatif dekat dengan pusat gempa pembangkit tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 yang menyebabkan sebanyak 668 orang meninggal. Pusat gempa 25 Oktober 2020 kemarin terletak di sebelah utara sejauh 131 km dari pusat gempa berkekuatan 7,7 pembangkit Tsunami Pangandaran 2006," ungkapnya.

Untuk diketahui, gempa berkekuatan magnitudo (M) 5,9 yang kemudian diperbarui menjadi M 5,6 mengguncang Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (25/10) pukul 07.56 WIB. Sebanyak 29 rumah dan 3 orang mengalami luka. Gempa turut dirasakan warga Kuningan, Cilacap, hingga Yogyakarta.

Gempa ini dirasakan dalam skala III-IV MMI di Sukabumi, Tasikmalaya, dan Pangandaran yang artinya gempa dirasakan oleh banyak orang. Gempa juga dirasakan dalam skala III MMI di Kuningan dan Garut, Jawa Barat; serta Cilacap, Jawa Tengah, artinya getaran terasa nyata dalam rumah dan seakan ada truk lewat.

Gempa juga dirasakan di Kabupaten Bandung, Kebumen, Kutoarjo, Banyumas, Banjarnegara, Kulonprogo, Bantul, Gunung Kidul, Yogyakarta dalam skala II-III MMI yang artinya getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu. Getaran gempa lebih lemah dirasakan di Kota Bandung, Tegal dalam skala II MMI yang artinya getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

(jbr/jbr)