Bacakan Pleidoi, Vanessa Akui Salahi Prosedur Saat Beli Pil Xanax

Isal Mawardi - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 15:44 WIB
Vanessa Angel menghadiri sidang kasus kepemilikan pil Xanax di PN Jakbar
Vanessa Angel menghadiri sidang kasus kepemilikan pil Xanax di PN Jakbar (Foto: Isal/detikcom)
Jakarta -

Vanessa Angel mengakui telah menyalahi prosedur ketika membeli pil Xanax di salah satu apotek di Surabaya, Jawa Timur. Hal itu diungkapkannya dalam nota pembelaan atau pleidoi.

"Dalam kasus ini saya sadar bahwa obat Xanax yang saya dapat dari apotek di Surabaya itu adalah menyalahi prosedur. Tapi resep saya tidak diminta oleh pihak apotek dan masih ada di tangan saya," ujar Vanessa Angel ketika membacakan pleidoi di PN Jakarta Barat, Jalan Letjen S Parman, Jakarta, Senin (26/10/2020).

Oleh karena itu, Vanessa sangat menyesal atas tindakannya. Menurut Vanessa, tindakannya itu telah melukai hati keluarganya.

"Untuk itu saya merasa sedih dan menyesal terlebih lagi saya telah melukai hati keluarga saya dengan semua pemberitaan yang ada, khususnya suami dan bayi kecil saya," kata Vanessa.

Vanessa mengaku tidak ada niat jahat ataupun menyalahgunakan pil Xanax. Ia hanya mengkonsumsi pil Xanax karena punya gangguan kecemasan.

"Saya menggunakan obat tersebut berdasarkan resep dokter dan selalu konsultasi ke dokter, saya memiliki gangguan kecemasan yang saya alami, membuat saya tidak bisa tidur, asam lambung, rambut rontok, dan emosi yang berubah-ubah," kata Vanessa.

Seperti diketahui, Vanessa Angel dituntut jaksa penuntut umum dengan hukuman 6 bulan penjara atas kasus kepemilikan 20 butir pil Xanax. Vanessa juga dihukum membayar denda sebesar Rp 10 juta subsider 3 bulan kurungan.

Polisi menyita 20 butir pil Xanax di kediaman Vanessa. Sebanyak 15 butir ditemukan di kamar Vanessa, sedangkan 5 butir ditemukan di dalam tas yang berada di mobil.

Vanessa Angel didakwa melanggar Pasal 62 UU RI Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika juncto Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 49 Tahun 2018 tentang Perubahan Penggolongan Psikotropika dalam Lampiran UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

(isa/knv)