Bergaji Rp 20 Juta, Indonesia Target Kirim 200 Imam ke UEA

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 12:31 WIB
Duta Besar RI untuk Abu Dhabi Husin Bagis
Dubes RI untuk UEA, Husin Bagis (Wahyu Daniel/detikcom)
Jakarta -

Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (UEA) Husin Bagis mengungkapkan, dalam tiga tahun ke depan, Indonesia akan mengirimkan 200 hafiz untuk menjadi imam di masjid-masjid di Abu Dhabi dan sekitarnya. Kesepakatan tersebut dicapai dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke UEA, Januari 2020.

"Informasi terakhir, sudah ada 100 orang yang mendaftar untuk ikut seleksi oleh Kementerian Agama," kata Husin dalam program Blak-blakan yang tayang di detikcom, Senin (26/10/2020).

Program pengiriman imam masjid ini, dia melanjutkan, bermula dari kebiasaannya menunaikan salat Subuh dan Magrib di masjid-masjid di sekitar Abu Dhabi. Husin Bagis memperhatikan ternyata para imam umumnya selain orang lokal berasal dari Pakistan, Bangladesh, dan Maroko. Kenapa Indonesia sebagai negeri muslim terbesar tak ada yang menjadi imam di UEA.

Dia pun kemudian berbicara dengan otoritas yang membidangi masalah tersebut. Kepada mereka Husin menjelaskan bahwa dari sekitar 270 juta penduduk Indonesia, 90 persennya adalah muslim. "Insyaallah satu persennya lagi hafiz Quran. Lebih banyak hafiz Quran di Indonesia ketimbang di negara-negara Arab," ujarnya menirukan paparannya kepada otoritas di UEA.

Pemerintah UEA memberikan penghargaan memadai kepada para imam masjid. Menurut Husin Bagis, para imam mendapatkan gaji bulanan sekitar Rp 20 juta, rumah dinas, asuransi Kesehatan, dan fasilitas lainnya. "Pokoknya enjoy-lah, " ujarnya.

Seorang imam di UEA itu tak perlu azan karena itu sudah disiarkan langsung melalui radio dari masjid besar. Tinggal ikamah saja, dan kalau mau khotbah juga materinya sudah disiapkan. "Naskahnya pendek-pendek," ujar Husin Bagis.

Dia berharap mulai tahun depan sedikitnya ada nada 60 WNI yang dikirim ke UEA untuk menjadi imam. Jumlah yang sama di tahun 2022 dan selebihnya pada 2023.

Bila sudah selesai bertugas, mereka dapat menularkan budaya dan tradisi toleransi yang ada di UEA di Tanah Air. Sebaliknya, mereka juga membawa budaya dan nilai-nilai toleransi yang selama ini berkembang di Indonesia.

(ddg/zak)