Elektabilitas PPP Turun Dinilai Gegara 2 Eks Ketum Terjerat Korupsi

Eva Safitri - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 07:15 WIB
Logo PPP
Logo PPP (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Elektabilitas PPP di Survei Indikator Politik turun menjadi nol koma. Turunnya elektabilitas PPP itu dinilai karena adanya sejarah dua eks ketua umumnya Suryadharma Ali dan Romahurmuziy terjerat kasus korupsi.

"Faktornya karena korupsi yang pernah mendera dua ketua umumnya. Pemberitaan terkait korupsi ke PPP membuat partai tersebut menurun elektabilitasnya. Karena bagaimana pun PPP partai Islam. Ketika terkena imbas korupsi mantan ketumnya, membuat PPP tergerus elektabilitas," kata Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, kepada wartawan, Sabtu (25/10/2020).

Faktor lain, menurut Ujang, adalah munculnya partai Islam baru dengan kemampuan menggaet milenial. Sedangkan PPP, disebutnya, tidak concern ke kaum anak muda.

"Faktor lainnya, karena banyak bermunculan partai-partai baru yang ngegas menggarap milenial. Sedangkan PPP dianggap partai tua yang kurang diminati kaum muda," ujarnya.

Lebih lanjut, terkait caketum PPP, Ujang mengatakan kandidat yang kuat adalah Suharso Monarfa. Dia mengatakan Suharso telah mampu membawa PPP lolos PT di tengah kasus korupsi Romahurmuziy.

"Dia (sebagai Plt Ketum PPP) dianggap sukses membawa PPP masuk Senayan kembali pada Pileg 2019 yang lalu, di tengah kasus korupsi yang mendera Rommy," ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan pengamat politik Universitas Pramadina, Hendri Satrio. Dia juga mengatakan PPP saat ini tidak lagi terlihat militan seperti sebelumnya.

"PPP makin lama tidak terlihat lebih militan dibandingkan partai Islam lainnya. Kedua, memang faktor korupsi para ketua itu berpengaruh, secara gamblang berpengaruh terhadap pemilih Islam, kan seperti jadi tradisi tuh Ketum PPP korupsi, makanya pemilih Islam memilih partai Islam itu pilihannya banyak, ada PKS, PAN, PKS, sekarang malah Partai Ummat," ujarnya.

"Jadi banyak pilihannya, jadi kalau PPP tidak membuat terobosan yang memang berbeda dan disukai rakyat, minimal rakyat ingat PPP itu akan susah," lanjut Hendsat.

Sama seperti Ujang, Hensat menyebut Suharso-lah yang akan terpilih menjadi ketum. PPP, menurutnya, punya ketergantungan pada posisi pejabat negara yang akan menduduki ketum sehingga, menurutnya, Suharso-lah yang akan terpilih.

"Ini ketergantungan sama pejabat tinggi, jadi kemungkinan besar Suharso yang kuat karena dia yang menjadi pejabat kan," tuturnya.

Sebelumnya, Survei Indikator Politik merilis soal elektabilitas partai politik. Ada beberapa partai yang mengalami kenaikan dan penurunan. PPP jadi salah satu partai yang elektabilitasnya turun hingga di bawah angka nol persen.

Survei dilakukan pada 24-30 September 2020. Sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak. Metode survei dilakukan dengan wawancara via telepon dengan margin of error sekitar 2,9% dan tingkat kepercayaan 95%. Seluruh responden terdistribusi secara acak dan proporsional.

Berikut ini paparan perkembangan elektabilitas partai yang dilakukan Indikator Politik pada September jika dibandingkan dengan surveinya pada Juli:

PKB: 5,0% turun menjadi 4,1%.
Gerindra: 17,7% naik menjadi 21,1%
PDIP: 26,3% turun menjadi 25,2%
Golkar: 8,3% turun menjadi 6,7%
NasDem 4,5% turun menjadi 3,1%
PKS: 4,4% naik menjadi 5,9%
PPP: 1,7% turun menjadi 0,6%
PAN: 2% turun menjadi 1,1%
Demokrat: 5,7% naik menjadi 5,9%
PSI: 0,1% naik menjadi 0,3%
Perindo: 0,3% naik menjadi 1%
Garuda: 0,0% naik menjadi 0,1%
Berkarya: 0,1% naik menjadi 0,8%
Hanura: 0,5% turun menjadi 0,4%

(eva/imk)