Kolom Hikmah

'Vaksinasi' Zuhud Sempurnakan Imunitas

Abdurachman - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 05:00 WIB
Prof Abdurrachman, Guru Besar Unair
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Belum ada obat khusus untuk membunuh virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19. Belum pernah ada vaksin (obat) yang menjamin sempurnanya imunitas. Padahal imunitas adalah kekuatan utama tubuh menangkal; virus, bakteri, jamur, parasit dan seluruh bahan toksik. Bahan yang akan menyebabkan kebinasaan tubuh.

Lalu bisakah dilakukan vaksinasi tanpa memasukkan obat, yang mampu menjadikan sempurnanya imunitas?

Sejarah Ilmu

Telah lama Einstein menemukan formula relativitas (E = mC2; 1905). Formula yang mengembalikan faham relativisme sebagai dasar ilmiah ultra moderen. Faham yang mengantar penemuan cetak biru makhluk hidup. Ialah struktur molekuler materi dasar genetik. Untaian basa protein double helix Deoxyribonucleic Acid (DNA). Faham yang menjadi dasar penemuan struktur inti virus, baik virus untai ganda (DNA) maupun yang untai tunggal Ribonucleic Acid (RNA) seperti SARS-Cov-2.

Faham relativisme melegitimasi ekivalensi fisik (m, pada formula Einstein) dan nonfisik (E). Tidak pernah ada fisik yang bukan nonfisik. Jika vaksin (obat) berbentuk fisik, maka pasti bisa dicari ekivalensi nonfisiknya.

Maksud utama dilakukannya vaksinasi adalah agar tubuh memperoleh daya tangkal terhadap bahan pathogen. Bahan yang menjadi jalan kebinasaan tubuh, antara lain virus. Kalau begitu, adakah "vaksin" nonfisik yang memiliki fungsi demikian?

Zuhud, "Vaksinasi" Fisik dan Nonfisik

Satu kata yang masyhur di kalangan orang-orang yang imannya sangat berkualitas ialah zuhud. Orang yang sampai pada tahap ini, ia memilih akhirat daripada dunia. Kecintaannya kepada akhirat melebihi kecintaannya terhadap dunia. Ia memiliki kekebalan yang tinggi terhadap godaan dunia. Sebagian bukti dari kecintaannya terhadap akhirat ialah keberpihakannya terhadap anak-anak yatim. Juga perhatian tulusnya kepada fakir miskin.

Ia memuliakan anak-anak yatim, menyiapkan tenaga, upaya solusi, pikiran dan dana untuk membantu menyiapkan kehidupan yang layak bagi anak-anak yatim. Ia menyiapkan sebagian tertentu dari hartanya untuk orang-orang miskin. Baik orang-orang miskin yang meminta mau pun yang tidak meminta. Ada bagian lain untuk orang tua, sanak famili, kerabat, tetangga dekat, tetangga jauh. Juga dana fii sabilillaah, demi kepentingan Agama.

Orang-orang demikian memiliki tanda-tanda yang dipuji oleh al-Quran melalui surat al-Maarij (QS. 70:24-25). Orang-orang yang demikian merupakan orang yang mampu menegakkan shalat dengan benar (QS. 70:23). Karena orang-orang yang melaksanakan shalat tetapi tidak membuahkan hasil yang seperti itu sebenarnya ia celaka, ia termasuk mendustakan agama, ia tidak shalat dengan benar (QS. 107:1-7)

Orang-orang yang zuhud shalatnya membuahkan ketenangan, jauh dari hiruk pikuk stres (QS. 70:20-22). Ketenangan demikian sesuai dengan banyak riset ilmiah membuahkan imunitas yang sempurna. Ketenangan demikian menurunkan kadar radikal bebas tubuh. Imunitas yang sempurna akan mampu menangkal pathogen apa pun termasuk virus. Radikal bebas yang rendah menunjukkan tingkat kemampuan tubuh untuk segera merenovasi bagian tubuh tertentu jika mengalami kerusakan atau jika sudah harus segera diremajakan. Imunitas sempurna dan radikal bebas yang rendah pada orang yang tenang menunjukkan kemampuan optimal tubuhnya untuk tetap sehat, tetap segar, dan awet muda.

Ketika turun surat sabbihisma rabbik al-a'la, Rasulullah saw bersabda, "Jadikanlah ia bacaan pada sujud kalian!" Di dalam sujud biasa dibaca subhaana rabbiyal a'laa. Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi.

Surat al A'laa (QS. 87:16) ini antara lain berisi petunjuk, pentingnya lebih mencintai akhirat daripada dunia. Karena orang-orang yang demikian dipastikan memperoleh kemenangan, keterbebasan dari siksa (QS. 87:14-15). Siksa itu bisa berupa kekhawatiran, ketakutan, penyakit dan musibah-musibah lain yang berpotensi negatif, menyengsarakan, membinasakan.

Di dalam sebuah hadits Rasulullah saw. memerintahkan untuk memperbanyak doa ketika sujud. Perintah ini antara lain bermakna memperbanyak doa supaya mampu mencintai akhirat lebih daripada mencintai dunia. Ialah memperbanyak bacaan subhaana rabbiyal a'laa.

Rasulullah saw. bersabda, "Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu."

Sujud merupakan puncak kedekatan hamba dengan Rabbnya. Ini bisa berarti bahwa saat sujud adalah saat seorang hamba paling dikabulkan permohonan doanya. Dari sini bisa ditarik makna sujud memiliki kedudukan sangat penting di dalam shalat.

Rasulullah saw. di lain hadits menyampaikan bahwa shalat merupakan amaliyah yang dihisab pertama kali di akhirat. Hadits tersebut setidaknya bermakna bahwa, shalat merupakan indikator amaliyah seorang hamba. Jika shalatnya baik, dipastikan amaliyahnya bagus. Sedangkan jika shalatnya belum baik, maka perbuatannya pun belum berkualitas.

Quran Surat al-Ankabuut (QS. 29:45) menjamin siapa pun yang mampu menegakkan shalat dengan sempurna pastilah ia mampu menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Sedangkan Rasulullah saw. menegaskan bahwa siapa saja yang shalatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar sama dengan tidak shalat.

Boleh disimpulkan bahwa siapa pun yang sujudnya berkualitas maka bisa diduga shalatnya berkualitas. Shalat yang berkualitas mampu mengantar kepada ketenangan sempurna. Ketenangan yang mampu menyempurnakan imunitas.

Di dalam sujud diulang-ulang bacaan subhaana rabbiyal a'laa. Ialah doa yang bermakna zuhud. Kalau demikian maka semakin zuhud seseorang, semakin sempurna imunitasnya, semakin mampu dia menghadang apa pun pathogen-nya, termasuk virus. Kualitas zuhud seseorang antara lain ditunjukkan dengan kualitas sujudnya.

"Vaksinasi" zuhud menyempurnakan kekebalan kita terhadap penyakit, penyakit fisik antara lain pandemi Covid-19. Zuhud juga merupakan vaksin ampuh bagi orang-orang mukmin untuk menghindar dari bahayanya dunia; harta, pangkat, jabatan dan apa pun yang bersifat sementara dan maya.

Mari kita sempurnakan sujud, mari tingkatkan kualitas zuhud kita, atasi penyakit, atasi pandemi, sampaikan diri pada kebahagiaan abadi. Kebahagiaan surgawi, ialah kebahagiaan sempurna yang kekal selama-lamanya.


Abdurachman


Penulis adalah Guru Besar Fakulas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)