Pakar Virologi UGM Minta Pemerintah Tak Tergesa-gesa Edarkan Vaksin Corona

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2020 18:54 WIB
Pemprov Jabar melakukan simulasi vaksinasi COVID-19 di Kota Depok, Kamis (22/10/2020).
Simulasi vaksinasi Corona (DEDY ISTANTO)
Jakarta -

Perkembangan vaksin virus Corona (COVID-19) terus digenjot pemerintah untuk menanggulangi pandemi yang belum diketahui akhirnya ini. Pakar virologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) M Saifudin Hakim meminta pemerintah berhati-hati dalam mengedarkan vaksin COVID-19.

"Saya harapkan ke pemerintah untuk betul-betul hati-hati dalam menentukan vaksin ini. Ini bukan suatu hal remeh, ini butuh kehati-hatian, butuh penyiapan teman-teman di lapangan, kemudian butuh program yang terstruktur untuk mengawasi kejadian ikutan, misalkan ada ini dan lain-lain," kata M Saifudin Hakim dalam diskusi virtual Kompas Talks bersama KAGAMA bertema 'Strategi Indonesia: Keluar dari Pandemi', Sabtu (24/20/2020).

"Jadi ini suatu pekerjaan yang berat, yang saya mohon untuk tidak dilaksanakan dengan tergesa-gesa meskipun kita semua sedang ada dalam situasi pandemi sekarang," sambungnya.

Saifudin pun bicara mengenai adanya penolakan masyarakat terhadap vaksin Corona. Menurutnya, sejumlah pihak menolak vaksin Corona karena mereka memperhatikan aspek keamanan vaksin itu.

"Nah, kalau saya melihat yang sudah beredar di masyarakat yang sudah ramai itu, sebetulnya pada asalnya dia bukanlah orang yang menolak vaksinasi. Tapi yang dia concern adalah masalah safety-nya," katanya.

Saifudin menilai wajar jika ada sejumlah pihak yang khawatir terkait vaksin Corona yang rencananya diedarkan pada November nanti. Sebab, menurut Saifudin, beberapa vaksin masih belum selesai melakukan uji klinis tahap ketiga.

"Mengapa? Karena kemarin juga ada wacana, pendataan, narasi bahwa vaksinasi akan dimulai pada November. Nah, ini sangat wajar kalau tenaga medis dan masyarakat secara umum itu agak khawatir, agak resah. Karena dalam logika kita, bagaimana mungkin sebuah vaksin itu dipakai beredar di bulan November sementara uji klinis fase ketiganya, termasuk teman-teman di FKK UGM, belum selesai," ujarnya.

Saifudin kemudian menyoroti perlunya memberikan penjelasan data terkait uji klinis tahap ketiga dari vaksin Corona. Dia menilai masyarakat akan tenang jika data tersebut dibuka.

"Nah, kalau data ini bisa di-post ke publik, kami para akademisi, para pakar, para dokter di lapangan itu akan mudah menjelaskan ke masyarakat. Mereka pun merasa tenang setelah melihat data-data ini," ungkapnya.

(hel/rfs)