'Top Cleaner' Pemicu Kebakaran Kejagung Jadi Besar Sudah 2 Tahun Dipakai

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 20:26 WIB
Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo
Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Polri mengungkapkan api kebakaran gedung utama Kejaksaan Agung (Kejagung) menjalar dengan cepat karena ada cairan pembersih merek top cleaner yang ditemukan di sana. Polri mengatakan, proses pengadaan cairan pembersih itu sudah berlangsung selama dua tahun.

"Bahwa proses pengadaan yang dilakukan yang kemudian sudah terjadi kurang lebih 2 tahun," kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirttipidum) Bareskrim Polri, Brigjen Ferdy Sambo saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2020).

Sambo menjelaskan bahan pembersih Top Cleaner yang digunakan Kejagung tidak sesuai dengan ketentuan dan tidak memiliki izin edar. Cairan pembersih itu ditemukan di setiap lantai gedung utama Kejagung saat penyidikan kebakaran dilakukan.

"Ternyata di gedung Kejaksaan Agung itu menggunakan alat pembersih yang tidak sesuai dengan ketentuan, di mana ada minyak lobi yang biasa digunakan oleh cleaning service di setiap gedung, di setiap lantai, untuk melakukan pembersihan. Setelah puslabfor kemudian melakukan pengecekan temuan-temuan adanya fraksi solar dan tiner di setiap lantai, kemudian kita lakukan penyidikan dari mana barang ini berasal. Dan setelah kita lakukan pendalaman, Top Cleaner ini tidak memiliki izin edar," ujarnya.

Bareskrim juga mengambil keterangan ahli Kementerian Kesehatan untuk memperkuat bahwa penggunaan top cleaner tersebut tidak boleh digunakan. Hasilnya, Kemenkes tidak memperbolehkan bahan pembersih menggunakan bahan yang mudah terbakar.

"Bagaimana menguatkan bahwa ini (top cleaner) nggak boleh. Dari ahli Kementerian Kesehatan kita mintakan apakah boleh alat pembersih ini menggunakan alat-alat yang mudah terbakar? Tidak boleh ada ketentuannya," tuturnya.

Sebelumnya, Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan ada delapan orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kebakaran Kejagung. Delapan orang itu ditetapkan sebagai tersangka karena kealpaan.

"Kita tadi menetapkan delapan tersangka dalam kasus kebakaran ini karena kealpaannya," kata Argo.

Penetapan tersangka ini dilakukan setelah Bareskrim dan Kejagung melakukan gelar perkara. Gelar perkara dilakukan untuk mengetahui apakah ada unsur kesengajaan dalam kebakaran gedung tersebut.

"Tadi jam 10 dari kepolisian, penyidik melakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka daripada kebakaran Kejagung ini, biar jelas, masyarakat biar tahu, biar jelas seperti apa, apakah itu suatu kealpaan atau itu ada pembakaran," jelasnya

Mereka yakni berinisial T, lalu H, kemudian S, dan K yang merupakan tukang pekerja proyek di lantai enam. Kemudian pekerja wallpaper IS, mandor tukang inisial UAM, lalu vendor maupun PT ARM inisial R dan terakhir dari PPK Kejagung inisial NH.

(mae/mae)