Pemprov Jateng Bangun 250 Unit Rumah Tahan Gempa 'Ruspin'

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 17:09 WIB
Rumah tahan gempa Ruspin
Foto: dok. Pemprov Jateng
Jakarta -

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) membangun 250 unit rumah tahan gempa pada 2020. Bangunan rumah tersebut diberi nama Rumah Unggul Sistem Panel Instan (Ruspin) yang merupakan hunian tahan gempa.

"Ruspin memang didesain tahan gempa. Bahkan hingga skala (SR) 9 masih kuat," ujar Kepala Disperakim Arief Djatmiko, dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2020).

Hal itu ia sampaikan saat memberikan informasi dari ruang kerjanya di Jalan Madukoro, Kota Semarang, Senin (19/10).

Menurut Arief, bangunan Ruspin memiliki konstruksi sederhana yakni hanya dirakit dan memiliki nilai rijid yang sangat kuat atau kaku yang bagus. Hal ini berdasarkan pada teknologi dari Pusat Penelitian Pengembangan Permukiman (Puslitbangkim) yang menyatakan bangunan Ruspin bisa tahan gempa berkekuatan 9 SR.

Arief mengatakan program ini merupakan salah satu ikhtiar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengurangi backlog rumah di Jateng. Backlog adalah selisih antara jumlah kebutuhan hunian dengan jumlah ketersediaan hunian yang ada.

Program ini pun diarahkan pada dua hal. Pertama, untuk memenuhi kebutuhan rumah. Kedua, untuk memanfaatkan teknologi Ruspin pada kawasan bencana. Secara teknis, Ruspin ini merupakan produk Puslitbangkim Pekerjaan Umum yang baru saja diluncurkan.

Pihaknya memilih Ruspin karena memiliki kepraktisan dan bisa dilakukan masyarakat secara umum. "Program ini baru saja di-launching di Jawa Tengah tahun 2020 ini," ujarnya.

Arief menuturkan program Ruspin di Jawa Tengah diperuntukkan bagi warga miskin, yang ingin memenuhi kebutuhan akan rumah. Adapun secara teknis, rumah ini mudah dikerjakan sehingga tidak membutuhkan peralatan rumit. Hanya dengan alat sederhana, masyarakat bisa mengerjakannya secara gotong-royong (komunitas) maupun sendiri.

Sementara untuk mekanisme perakitannya, Arief mengatakan Disperakim telah memberikan pelatihan terlebih dulu kepada penerima manfaat. Menurutnya, teknologi Ruspin ini terdiri dari dua komponen yaitu komponen pembentuk kolom dan komponen penguat tegakan alur. Yang mana, saat dirakit bisa memakan waktu tiga hari dengan tiga orang tukang untuk pengerjaan bagian struktur bangunan.

"Setelah selesai, barulah dilakukan pembangunan lanjutan, baik berupa atap, dinding dan lantai. Secara keseluruhan membutuhkan waktu tiga sampai empat minggu saja (waktu pengerjaan)," jelasnya.

Arief mengatakan Disperakim memilih dua pengerjaan Ruspin yaitu Ruspin Pembangunan Baru Mandiri untuk warga miskin yang kekurangan rumah (backlog), dan Pembangunan Baru Terdampak Bencana untuk daerah rawan bencana. Untuk pengerjaan Ruspin di daerah rawan bencana, baru dilakukan di Kabupaten Purworejo dengan jumlah 11 unit rumah.

Saat ini, untuk pengerjaan di Purworejo di daerah rawan bencana, ada yang sudah berdiri dan ada yang sedang dalam proses pengerjaan. Sedangkan Ruspin Pembangunan Baru Mandiri untuk warga miskin dibangun di 15 kabupaten.

Adapun 15 kabupaten tersebut yaitu Purworejo, Wonosobo, Banjarnegara, Pemalang, Brebes, Blora, Rembang, Klaten, Sragen, Temanggung, Demak, Pati, Jepara, Kebumen, dan Grobogan. Arief menuturkan untuk pengerjaannya sudah ada yang selesai, dan lainnya sedang dalam proses.

Arief juga menambahkan untuk pengerjaa pihaknya terus melakukan pendampingan supaya kualitas tetap terjaga. Termasuk untuk bangunan Ruspin di titik bencana. Ia berharap ke depan, Ruspin tidak hanya dibangun pemerintah provinsi tapi juga komunitas di masyarakat yang peduli dengan masalah rumah. Hal itu sesuai dengan tagline Jateng Gayeng Bangun Omah Bareng.

Para penerima manfaat Ruspin menyambut gembira dengan peluncuran program Ruspin tersebut. Salah satunya mereka yang terdampak bencana tanah bergerak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

Kegembiraan mereka beralasan, yakni tidak perlu lagi khawatir akan dampak tanah bergerak usai mendapat bantuan rumah tahan gempa dari Pemprov Jateng. Dengan adanya bantuan pembangunan rumah tahan gempa, membuat warga yang terdampak terbantu. Seperti di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

Salah satu warganya adalah Wagiman. Pria 58 tahun ini tidak henti-hentinya sibuk membersihkan bangunan Ruspin. Wagiman bersama cucu laki-lakinya, membersihkan sampai merapikan bangunan. Tampak, rumah barunya telah berdiri.

Rumah yang baru berdiri itu, tengah disiapkannya agar bisa ditinggali bersama anggota keluarga lain. Sebab, rumah lamanya yang berjarak sekitar 300 meter, tak lagi aman mengingat sewaktu-waktu tanah bergerak berpotensi kembali terjadi khususnya saat hujan lebat.

Wagiman mengatakan dampak bencana tanah bergerak telah membuat bangunan rumah lamanya rusak. Seperti kerusakan pada dinding, lantai retak, serta bangunan kamar mandinya miring.

Wagiman merasa bersyukur bisa mendapatkan bantuan Ruspin. "Senang sekali. Pokoknya gembira sekali. Tinggal di atas (rumah lama) kena bencana dari tahun 2013, terus 2017, itu kena bencana tanah bergerak. Jadi saya takut sekali. Soalnya nanti, tahu-tahu rumah saya ambruk," ujar Wagiman.

Menurut Wagiman, jauh sebelum mendapatkan rumah bantuan ia berupaya keras mencari lahan aman. Tujuannya untuk mendirikan rumah darurat berbahan kayu, yang nantinya akan menjadi tempat tinggal.

Namun belum sempat ditinggali, dirinya malah mendapatkan bantuan rumah. "Alhamdulillah dapat dari pak Gubernur rumah Ruspin ini. Saya senang sekalilah," ungkapnya.

Wagiman mengaku ikhlas meninggalkan rumah lamanya dan tinggal di Ruspin. Ia berharap rumah barunya akan aman ditempati. Wagiman pun mengatakan terdapat banyak kenangan di rumah lamanya. Seperti saat tanah bergerak terjadi, seketika sejumlah bagian dinding rumahnya retak.

"Ketika itu, keluarga merasa khawatir tertimpa bangunan. Dalam kondisi kalut, mereka bertahan sambil mencari tanah yang aman," ujar Wagiman.

Saat ini, Wagiman siap menempati rumah baru. Karena itulah, pria yang kesehariannya menjadi pemetik kelapa menatanya seperti halnya akan menata supaya tersambung aliran listrik.

Wagiman pun sementara tinggal di rumah lama sampai rumah barunya siap huni. Meski ia menyadari jika ancaman tanah retak masih terjadi. Tapi dirinya sudah siap berlari ke rumah barunya. "Terima kasih pak gubernur rumah Ruspin-nya. Mudah-mudahan ditempati saya, aman," pungkas Wagiman.

Warga terdampak tanah bergerak lainnya, Karno Wiyono menuturkan saat ini dirinya telah memilih meninggalkan rumah lama yang dulu ia tempati. Sebab, selain tanah bergerak berdampak pada keretakan parah bangunan, juga tak lagi aman dihuni.

Ia pun telah menerima menerima bantuan Ruspin. "Bangunan (rumah lama) sampun (sudah) retak-retak," ungkap Karno.

Sementara itu, Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Ruspin Desa Donorejo, Ardian Pratikto menambahkan di desanya terdapat 11 unit bantuan Ruspin. Sebab, ke 11 rumah warga itu mengalami kerusakan akibat tanah bergerak. Ada yang rusak parah, dan ada yang sekadar retak-retak.

"Tanahnya sudah longsor. Retak-retak. Sebagian (warga) sudah pindah dan sebagian masih ditempati. Kalau hujan deras, mereka evakuasi di lokasi yang aman seperti musala, atau ke rumah (Ruspin) yang sudah dibangun," ujar Ardian.

Adapun penerima manfaat Ruspin tidak hanya mereka para warga terdampak tanah bergerak, tapi juga mereka kalangan miskin. Satu di antaranya adalah warga Kelurahan Sucenjuru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Komarudin.

Komarudin bersama keluarga selama ini tinggal di rumah orang tuanya. Kini ia mendapat bantuan rumah tahan gempa yang lokasinya berdekatan dengan rumah yang ditinggalinya semula. "Saya senang telah mendapatkan bantuan dari pak gubernur. Karena selama ini berangan-angan ingin punya rumah," ujar Komarudin.

Hal senada disampaikan oleh warga Desa Reco, Kecamatan Kertek yaitu Budi Setyanto. Sebagai penerima manfaat bantuan, ia merasa bersyukur atas bantuan rumah itu. Sebab semula, dia bersama keluarga tinggal di rumah bekas kandang sapi.

"Tanah milik desa. Kandang sapi tadinya, saya buat rumah, saya tinggali bersama anak dan istri," kata Budi ditemui sedang membagun Ruspin bersama rekannya.

Rasa syukur serupa juga diungkapkan warga Desa Reco lainnya, Triyono. Ia mengaku dengan memiliki rumah baru berupa Ruspin, dirinya bisa mandiri bersama keluarga kecilnya.

"Semula tinggal bersama orang tua. Akhirnya bisa memiliki rumah sendiri," pungkas Triyono.

(prf/ega)