Berkat Hilirisasi, Kini Petani Solok Bisa Ekspor Minyak Sereh Wangi

Inkana Putri - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 17:01 WIB
Ditjenbun
Foto: Ditjenbun
Jakarta -

Petani sereh wangi di Solok, Sumatera Barat terus berupaya meningkatkan nilai tambah hasil produksinya. Selain melakukan budidaya sereh wangi di lahan marginal, petani sereh wangi yang tergabung dalam Kelompok Tani Agribisnis Atsiri juga melakukan hilirisasi melalui penyulingan sereh wangi dan menjual hasil minyak kepada eksportir.

Ketua Kelompok Tani Agribisnis Atsiri Kota Solok, Djanuardi mengatakan sereh wangi yang ditanam petani disuling sendiri dengan memanfaatkan ketel, dengan lama penyulingannya 7-8 jam untuk ketel isi 1 ton daun sereh wangi.

"Ukuran ketel yang digunakan petani macam-macam, sesuai kebutuhan. Umumnya yang dipakai volumenya 500 kg-1 ton. Rendeman minyak yang dihasilkan 0,8-1 persen," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2020).

Ketua Perhimpuam Petani dan Penyuling Minyak Atsiri (P3MA) Sumatera Barat ini juga menjelaskan setelah melalui proses penyulingan, tiap 1 ton daun sereh wangi mampu menghasilkan 8-10 kg minyak sereh wangi.

"Kalau tiap 1 hektare, kami bisa panen daun segar sereh wangi 10-15 ton. Panen daun sereh wangi ini sangat tergantung pemeliharaan kebun," katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan umumnya minyak sereh wangi tersebut dijual ke eksportir dengan harga Rp 165.000 per kg.

Selain itu, Kelompok Tani Agribisnis Atsiri Kota Solok menerima pembelian minyak sereh wangi dari petani lainnya seharga Rp 155.000 - Rp 157.000 per kg.

"Ya kita untung sedikitlah. Walau untung tipis, asalkan petani kita lancar pemasaran produknya. Dan hilirisasi sereh wangi inilah yang terus kami lakukan ke petani lain agar mereka mendapat nilai tambah," paparnya.

Djanuardi menambahkan sebanyak 70 persen hasil minyak dijual ke eksportir, sementara 30 persennya diolah menjadi sabun mandi padat maupun cair seperti aromatherapy, minyak urut dan obat tradisional. Sedangkan hasil minyak yang kotor diolah menjadi pestisida organik dan disinfektan.

Terkait hal ini, Kementerian Pertanian mendorong petani atau pekebun untuk mengembangkan agribisnis sereh wangi.

Dalam kunjungannya ke Maluku akhir Mei lalu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta jajarannya untuk mendampingi dan menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan, serta meningkatkan produksi maupun produktivitas komoditas pertanian dan perkebunan. Adapun hal ini dilakukan guna meningkatkan nilai tambah petani.

"Selain nilai tambah, petani juga harus punya daya saing dan keunggulan setiap komoditas pertanian. Harus memperkuat sektor hulu dan mengembangkan sektor hilir sehingga ada nilai tambah," ujarnya.

Sementara itu Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP), Dedi Junaedi mengatakan hilirisasi sangat diperlukan untuk mendorong pekebun mendapatkan nilai tambah dan daya saing. Oleh karena itu, Ditjen Perkebunan melalui Direktorat PPHP memfasilitasi alat pasca panen dan pengolahan hasil perkebunan kepada kelompok tani.

"Hilirisasi difokuskan di tingkat kelompok tani agar menghasilkan bahan baku berkualitas. Sedangkan dukungan pasca panen dilakukan agar petani atau pekebun punya nilai tawar dan menghasilkan end produk bernilai tinggi," pungkasnya.

Sebagai informasi, Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Tim Direktorat Tanaman Semusim dan Rempah juga melakukan pengawalan dan monitoring pengembangan sereh wangi di Jawa Tengah pada Juli lalu.

Adapun sereh wangi yang dikembangkan di Jateng, luasnya mencapai 278,45 Ha, sementara jumlah produksinya mencapai 23,812 ton minyak per tahun.

Tanaman tersebut dikembangkan di Kabupaten Semarang, Cilacap, Purbalingga, Brebes, Batang, Boyolali dan Kendal. Diantara kabupaten tersebut, hanya Kabupaten Brebes dan Kendal yang mendapatkan APBN tahun anggaran 2020, yakni masing-masing seluas 5 ha.

(ega/ega)