BMKG Prediksi Indonesia Bebas Karhutla Berkat La Nina dan MJO

Deden Gunawan - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 14:00 WIB
Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati
Foto: Dwikorita Karnawati (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Fenomena La Nina yang sudah berlangsung seiring dimulainya musim penghujan pada Oktober hingga Maret 2021 akan memicu curah hujan 20-40% lebih tinggi dari biasanya. Hal ini tentu akan membuat pasokan air di tanah, khusus di lahan-lahan gambut akan lebih banyak. Karena itu ketika memasuki musim kemarau nanti diharapkan lahan gambut tidak mudah terbakar karena masih basah.

Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Prof Dwikorita Karnawati, Ph.D, untuk Riau dan Sumatera Utara pada Februari-Maret, dan terkadang sampai April sudah mulai kemarau. Dalam kondisi ini biasanya terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baik yang disengaja dalam rangka membuka lahan baru maupun karena faktor alam.

"Tapi dengan tingginya curah hujan diharapkan air yang meresap cukup banyak dan membuat lahan gambut tetap basah sehingga tak mudah terbakar," kata Dwikorita dalam Blak-blakan yang tayang di detik.com, Jumat (23/10/2020).

Untuk diketahui fenomena La Nina merupakan iklim global akibat anomali suhu air muka laut di Samudera Pasifik bagian ekuator tengah turun ke minus - 0,5 derajat celcius, sebaliknya di Indonesia suhu muka laut hangat. Dari Pasifik fenomena ini bergerak ke wilayah Barat Indonesia, dan akan mengalami puncaknya pada Desember.

Selain itu, menurut Dwikorita, pada 18-24 Oktober ini juga berlangsung fenomena MJO (Madden Julian Oscillation). MJO merupakan gumpalan awan dari Samudra Hindia yang bergerak ke arah Samudra Pasifik dan wilayah tropis seperti Indonesia. Meski durasinya cukup pendek, selama lima hair, MJO punya siklus yang juga pendek yank 60 Hari. BMKG memperkirakan dia akan kembali melintasi Indonesia dalam 60 hari ke depan atau sekitar Desember.

"Kalau prediksi ini benar terjadi, curah hujan akan sangat tinggi sekali. Semoga MJO tidak bertepatan di waktu puncak musim hujan di Indonesia yang diperkirakan terjadi Desember 2020," papar mantan Rektor UGM itu.


Kebakaran hutan dan lahan sangat hebat pernah terjadi pada 2015, mencakup wilayah Kalimantan dan Sumatera. Kebakaran waktu itu terjadi di musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino, yang merupakan lawan dari La Nina. "Iya, kalau La Nina menyebabkan curah hujan tinggi, sebaliknya El Nino itu membuat wilayah Indonesia sangat kering. Lahan gambut pun jadi mudah terbakar saking keringnya," kata Dwikorita.

Blak-blakan 5 Ancaman Bencana Akibat La Nina:

[Gambas:Video 20detik]



(jat/jat)