Round-Up

6 Fakta Dakwaan Nurhadi Beli Lahan Sawit-Tas Mewah dari Dagang Perkara

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 20:01 WIB
Sidang perdana mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono dimulai. Sidang digelar secara virtual.
Sidang Nurhadi digelar secara virtual. (Ari Saputra/detikcom)

Jaksa mengungkapkan gratifikasi yang diterima Nurhadi ini diterima selama 3 tahun sejak 2014 hingga 2017. Uang gratifikasi ini diberikan oleh 5 orang dari perkara berbeda.

"Bahwa dalam melaksanakan tugasnya dan wewenangnya terdakwa I memerintahkan terdakwa II untuk menerima uang dari pihak yang memiliki perkara di lingkungan pengadilan baik ditingkat pertama, banding, kasasi, maupun peninjauan kembali tersebut secara bertahap sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2017 diantaranya dari Handoko Sutjitro, Renny Susetyo Wardani, Donny Gunawan, Freddy Setiawan, dan Riadi Waluyo yang diterima dengan menggunakan rekening atas nama Rezky Herbiyono, Calvin Pratama, Soepriyo Waskito Adi, Yoga Dwi Hartiar, dan Rahmat Santoso yang seluruhnya berjumlah 37.287.000.000 (Rp 37,2 miliar)," tutur dia.

Nurhadi dan Rezky didakwa melanggar Pasal 12 huruf a dan 12B atau Pasal 11 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Jo Pasal 64 dan 65 ayat 1 KUHP.

Begini Aliran Suap-Gratifikasi Nurhadi di Kasus

Dagang Perkara

Jaksa membeberkan sejumlah aliran uang suap dan gratifikasi yang diterima Nurhadi. Nurhadi memakai rekening orang lain sebagai perantaranya.
"Bahwa terdakwa I melalui terdakwa II telah menerima uang dari Hiendra Soenjoto seluruhnya sejumlah Rp 45.726.955.000 dengan rincian sebagai berikut," tutur jaksa Wawan.

Berikut rincian penerimaan suap Rp 45 miliar:
- Pada 22 Mei 2015 Rp 400 juta melalui rekening Rezky Herbiyono
- 2 Juli 2015 Rp 3,9 miliar melalui rekening Rezky Herbiyono
- 3 Juli 2015 Rp 508 juta melalui rekening Rezky Herbiyono
- 6 Juli 2015 Rp 575 juta melalui rekening Rezky Herbiyono
- 7 Juli 2015 Rp 25 juta melalui rekening Rezky Herbiyono
- 14 Juli 2015 Rp 5,4 miliar melalui rekening Rezky Herbiyono
- 14 Juli 2015 Rp 5,1 miliar melalui rekening Soepriyo Waskito Adi
- 15 September 2015 Rp 1,980 miliar melalui rekening Rezky Herbiyono
- 15 Oktober 2015 Rp 10 miliar untuk Rezky melalui Iwan Cendekia Liman dikirim ke rekening Santoso Arif (staf Iwan)
- 16 Oktober 2015 Rp 1,515 miliar melalui rekening atas nama Calvin Pratama

-26 Oktober 2015 Rp 1 miliar melalui rekening Rezky Herbiyono
- 28 Oktober 2015 Rp 2.119.955.000 melalui rekening Rezky Herbiyono
- 16 November 2015 Rp 2 miliar melalui rekening Rezky Herbiyono
- 3 Desember 2015 Rp 215 juta melalui rekening Rezky Herbiyono
- 28 Desember 2015 Rp 2,5 miliar melalui rekening Calvin Pratama
- 29 Desember 2015 Rp 1,8 miliar melalui rekening Calvin Pratama
- 14 Januari 2016 Rp 1,5 miliar melalui rekening Rezky Herbiyono
- 22 Januari 2016 Rp 5 miliar melalui rekening Calvin Pratama
- 4 Februari 2016, Rp 26 miliar melalui rekening Rezky Herbiyono
- 5 Februari 2016 Rp 50 miliar melalui rekening Rezky Herbiyono.

Hal sama juga ketika Nurhadi menerima gratifikasi yang totalnya mencapai Rp 37 miliar lebih. Uang itu juga ditransfer melalui rekening orang lain.

Berikut ini rinciannya:

1. Pemberian dari Handoko Sutjitro tahun 2014 terkait pengurusan perkara di PN Surabaya dikirim ke rekening Rezky Herbiyono dan Soepriyo Waskito Adi

2. Penerimaan dari Renny Susetyo Wardhani tahun 2015 terkait pengurusan PK dikirim ke rekening Rezky Herbiyono

3. Penerimaan dari Donny Gunawan selaku Direktur PT Multi Bangun tahun 2015, terkait perkara di PN Surabaya dan di PT Surabaya, serta di MA dikirim ke rekening Rezky Herbiyono, Calvin Pratama, dan Yoga Dwi Hartiar

4. Penerimaan dari Freddy Setiawan tahun 2015 dan 2017 secara bertahap terkait pengurusan PK dikirim ke rekening adik ipar Nurhadi, atas nama H R Santoso

5. Penerimaan dari Riadi Waluyo tahun 2016 terkait perkara di PN Denpasar sebesar Rp 1,687 miliar dikirim ke rekening Calvin Pratama.

Uang Suap Dibelikan Lahan Sawit-Tas Bermerek


Jaksa mengungkapkan uang suap yang diterima Nurhadi dibelikan lahan sawit, kendaraan, tas bermerek hingga melakukan renovasi rumah di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.

"Bahwa terdakwa I Nurhadi selaku pegawai negara atau penyelenggara negara, yaitu selaku Sekretaris Mahkamah Agung RI Tahun 2012 sampai 2016, bersama-sama dengan terdakwa II Rezky Herbiyono telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut, menerima hadiah atau janji, yaitu menerima uang sejumlah Rp 45.726.955.000," ujar jaksa KPK Wawan Yunarwanto saat membacakan dakwaan di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Kamis (22/10/2020).

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) agar keduanya membantu Hendra dalam mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA.

"Bahwa untuk pengurusan perkara tersebut di atas, terdakwa I melalui terdakwa II telah menerima uang dari Hiendra Soenjoto seluruhnya sejumlah Rp 45.726.955.000 secara bertahap sejak 22 Mei 2015 hingga 5 Februari 2016," ucap jaksa.

Jaksa menyebut penerimaan tersebut selanjutnya digunakan oleh terdakwa I dan terdakwa II di antaranya:

- Antara 22 Mei 2015 sampai 22 Januari 2016 ditarik tunai sejumlah Rp 7.408.009.280 (Rp 7,4 miliar)
- Pada 8 Juli 2015 ditransfer ke rekening BCA atas nama Benson untuk pembelian lahan sawit di Padang Lawas sejumlah Rp 2 miliar
- Pada 15 Juli 2015 ditransfer ke rekening BCA atas nama Tin Zuraida (istri Nurhadi) sejumlah Rp 775 juta dan ke rekening BCA atas nama Tin juga sejumlah Rp 55 juta
-Antara 22 Mei 2015 sampai 15 September 2015 membeli beberapa tas merek Hermes sejumlah Rp 3.262.030.000 (Rp 3,26 miliar)
-Antara 10 Agustus 2015 sampai 18 Januari 2016 membeli pakaian sejumlah Rp 396.900.000
- Antara 25 Mei 2015 sampai 14 Januari 2016 membeli mobil Land Cruiser, Lexus, Alphard beserta aksesori sejumlah Rp 4.604.328.000 (Rp 4,6 miliar)

-Antara 10 Juli 2015 sampai 19 Januari 2016 membeli jam tangan sejumlah Rp 1,4 miliar
-Antara 19 Juni 2015 sampai 25 Januari 2016 membayar utang sejumlah Rp 10.968.000.000 (Rp 10,9 miliar)
-Antara 19 Juni sampai 22 Juli 2015 untuk berlibur ke luar negeri sejumlah Rp 598.016.150
-Antara 21 September 2015 sampai 30 Desember 2015 ditukar dalam mata uang asing sejumlah Rp 4.321.349.895 (Rp 4,3 miliar)
-Antara 19 Juni 2015 dan 27 Oktober 2015 dipergunakan untuk biaya pengurusan dan renovasi rumah di Jalan Patal Senayan, Jakarta Selatan, sejumlah Rp 2.665.000.000 (Rp 2,6 miliar)
-Antara 25 Mei 2015 sampai 12 Februari 2016 dipergunakan untuk kepentingan lainnya sejumlah Rp 7.973.321.675 (Rp 7,9 miliar).

"Bahwa para terdakwa mengetahui atau setidak-tidaknya patut menduga bahwa penerimaan uang sejumlah Rp 45.726.955.000 dari Hiendra Soenjoto bertentangan dengan kewajiban terdakwa," tutur jaksa.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3