Cerita Hendi Nyamar Jadi Ojol Guna Serap Aspirasi Warga Semarang

Abu Ubaidillah - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 19:11 WIB
Hendrar Prihadi
Foto: Timses Hendi
Jakarta -

Calon Petahana Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memiliki cara unik untuk menyerap aspirasi masyarakat. Ia menyamar menjadi driver ojek online dan berkeliling Kota Semarang untuk berkomunikasi dengan masyarakat.

Lengkap dengan jaket hijau khas ojek online, Hendi, sapaan akrabnya tak canggung masuk ke komunitas driver ojol. Dalam waktu kurang dari sehari, video penyamaran Hendi menjadi driver ojol itu telah ditonton lebih dari 200 ribu pengguna media sosial di berbagai platform.

Dalam video berjudul 'Sehari Menjadi Driver Ojol', penyamaran Hendi tak 100% berhasil. Meski wajahnya tertutup helm dan masker, sejumlah orang masih mengenalinya sebagai orang nomor satu di Semarang.

"Pak Hendi ya? Aku tau, Pak Hendi ya," sebut salah satu penjual makanan ketika Hendi berniat membeli untuk layanan pesan antar dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10/2020).

"Loh? Aku? Bukan!" jawab Hendi mengelak.

Hendi mengaku memilih ojek online sebagai penyamaran karena dianggap merupakan profesi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat berbagai lapisan.

"Sedulur-sedulur driver ojol ini bersentuhan langsung dengan masyarakat dari berbagai lapisan. Termasuk saya sendiri, kalau malam butuh apa pakai ojol. Sehingga di sisi lain juga bisa mengukur kondisi ekonomi Kota Semarang," kata Hendi.

Hendi mencontohkan, misalnya dari order makanan, yang paling ramai dipesan ada pada segmen mana. Kemudian penumpang, orderannya seberapa banyak. Hendi menyebut apa yang dilihatnya bisa menjadi tolak ukur penting.

Selain ingin mengetahui keluhan warga terkait ekonomi, Hendi juga mengatakan bisa lebih memahami aspirasi masyarakat terhadap kinerja Pemerintah selama ini. Ia mengaku baru menjalani eksperimen sosial ini pertama kali dan hasilnya efektif. Ia bisa langsung mengetahui pandangan masyarakat tanpa ada yang ditutup-tutupi.

"Selain itu khusus kemarin, saya juga bisa sekaligus mengukur seberapa paham masyarakat tentang adanya Pilwalkot pada tanggal 9 Desember 2020, yang kemudian harapannya KPU dapat lebih masif melakukan sosialisasi," ceritanya.

(mul/ega)