Legislator PPP Usul Tiang Monorel Jakarta Jadi Skywalk LRT Instragramable

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 19:06 WIB
Tiang konstruksi proyek monorel yang berada di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan tidak terpakai. Terlebih, proyek LRT Jabodebek yang berada di sampingnya membuat konstruksi baru untuk koridor Cawang-Dukuh Atas.
Tiang-tiang monorel mangkrak (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Nurhayati Monoarfa, angkat bicara mengenai proyek tiang-tiang konstruksi monorel DKI yang mangkrak bertahun-tahun. Nurhayati menilai proyek itu bukan proyek milik pemerintah pusat, melainkan proyek DKI dengan skema investasi swasta.

"Setahu saya itu bukan proyek pemerintah pusat, tapi proyek DKI dengan skema investasi swasta. Karena skema investasi maka jadi ada permasalahan aset, dan sudah pernah ada penilaian dari auditor independen yang nilainya sangat besar," kata Nurhayati kepada wartawan, Kamis (22/10/2020).

Politikus PPP ini mengusulkan agar pemerintah pusat atau Pemprov DKI Jakarta dapat bekerja sama dengan investor di proyek tersebut guna memanfaatkan struktur yang ada. Ia menyarankan agar tiang bangunan itu dijadikan skywalk yang cantik sehingga menarik di-posting di medsos Instagram (Instagramable).

"Ini usulan pribadi, pemerintah pusat atau daerah bekerja sama dengan investor yang sudah membangun untuk memanfaatkan struktur tersebut untuk wisata, misalnya membuat skywalk yang dapat diakses dari stasiun LRT yang di Kuningan, dan tentu harus disiapkan fasilitas komersial atau yang eye catching atau yang Instagramable," ungkapnya.

Lebih lanjut, Nurhayati menilai proyek monorel DKI menjadi polemik karena jika tiang tersebut dibongkar maka memerlukan biaya ganti rugi yang besar. Menurutnya, masalah biaya membuat banyak pihak tidak berani membongkar tiang konstruksi tersebut.

"Dibongkar, perlu ganti rugi yang nilainya besar sehingga tidak ada yang berani sepertinya," katanya.

Nurhayati mengatakan, apabila tiang bangunan monorel ingin dialihfungsikan menjadi struktur LRT, perlu dilakukan asesmen struktur bangunan. Selain itu, lanjutnya, tetap perlu ada ganti rugi kepada investor dari aset itu.

"Dimanfaatkan untuk struktur LRT atau jenis transportasi perkeretaapian yang lain, namun perlu asesmen struktur atau umur sudah lama dan berisiko kegagalan bangunan, dan kembali lagi harus mengganti rugi aset investor tersebut," ujar Nurhayati.

Nurhayati menjelaskan, proyek monorel DKI merupakan kerja sama dengan konsorsium perusahaan swasta dan BUMN, yaitu PT Adhi Karya Tbk. Ia juga menilai keputusan dicabut atau tidaknya tiang tersebut harus ditanyakan kepada pihak konsorsium Monorel Jakarta.

"Mengenai soal apakah tiang-tiang tersebut dicabut atau dimanfaatkan, mesti ditanyakan pada pihak konsorsium Jakarta Monorel. Jika status kepemilikannya sudah clear, tentu dapat segera diputuskan opsi terbaik," tuturnya.

Diketahui, peresmian pembangunan tiang-tiang proyek monorel diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 14 Juni 2004. Pemancangan tiang pancang pertama dilakukan di Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Selatan. Saat itu Gubernur Jakarta dijabat oleh Sutiyoso.

Namun, seiring berjalannya waktu, pembangunan proyek monorel tak kunjung selesai. Alur pembangunan proyek tersebut sempat maju-mundur tanpa progres dan kejelasan.

(hel/jbr)