PM Jepang ke RI Dianggap Ancaman, Legislator PAN Ungkit Investasi China

Dwi Andayani - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 06:35 WIB
Farah Puteri Nahlia, caleg DPR terpilih dari PAN, usia 23 tahun. (Dok Pribadi)
Foto: Farah Puteri Nahlia, caleg DPR terpilih dari PAN, usia 23 tahun. (Dok Pribadi)
Jakarta -

Sejumlah pengamat di China menganggap kunjungan PM Jepang Yoshihide Suga ke Indonesia sebagai sebuah ancaman stabilitas perdamaian di kawasan. Fraksi PAN menilai hal ini belum tentu mewakili sikap pemerintah China.

"Menurut saya terkait dengan pemberitaan yang muncul dari media PKC, itu belum tentu mewakili sikap pemerintah China. Saya yakin pemerintah China sangat menghormati sikap Indonesia dalam berhubungan dengan negara lain, seperti Jepang misalnya," ujar anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PAN Farah Puteri Nahlia, saat dihubungi Rabu (21/10/2020).

Farah menyebut, Indonesia memiliki kewajiban untuk menjaga hubungan baik dengan negara lain. Dia menegaskan soal politik luar negeri bebas aktif yang diusung Indonesia.

"Kemudian, Indonesia juga berkewajiban untuk menjaga hubungan baik dengan negara-negara lainnya, yakni dalam hal diplomatik maupun perdagangan. Mengingat sikap polugri kita juga politik bebas aktif, sehingga tidak memihak ke negara manapun dan harus terus menjaga harmoni persahabatan dan kerjasama internasional," kata Farah.

Farah lantas mengungkit banyaknya investasi China yang datang ke Indonesia. Menurutnya, ke depan hubungan antara Indonesia, Jepang dan China akan tetap berdampak positif.

"Kecuali kalau kita berbicara hubungan antara Indonesia-China yang mengakui One-China Policy, di mana Indonesia tidak bisa berhubungan dengan Taiwan dan Taipei. Selebihnya sama sekali bukan masalah," kata Farah.

"Terlebih dengan banyaknya investasi China yang datang ke Indonesia, Jepang sama sekali tidak baper atau memberikan tanggapan terkait hal tersebut. Dan menurut saya ke depan hubungan Indonesia dengan ke dua negara tersebut akan berdampak positif bagi pembangunan tentunya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat," sambungnya.

Diketahui, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga telah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo dan keduanya sepakat untuk melanjutkan kerjasama di berbagai bidang, terutama kesehatan, keamanan, dan ekonomi.

Sejumlah pengamat di China mengatakan kunjungan PM Suga ke Vietnam dan Indonesia menandakan jika Jepang secara aktif mulai membantu dan memastikan strategi Indo-Pasifik untuk menahan pengaruh China di kawasan Asia Tenggara.

Media milik Partai Komunis China, The Global Times, melaporkan para pengamat juga mengkhawatirkan jika kesepakatan yang dibuat oleh Jepang di Asia Tenggara justru akan mengancam stabilitas perdamaian di kawasan.

The Global Time mengutip pernyataan Da Zhigang, direktur dan peneliti dari Institute of Northeast Asian Studies di Heilongjiang Provincial Academy of Social Sciences yang mengatakan kesepakatan militer malah akan meningkatkan kesulitan untuk mencapai konsensus multilateral atas sengketa Laut China Selatan.

(dwia/knv)