Beredar Poster Provokasi Aksi Tolak Omnibus Law di Bali, Polisi Turun Tangan

Angga Riza - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 17:26 WIB
Poster berisi provokasi aksi tolak omnibus law di Bali.
Poster berisi provokasi aksi tolak omnibus law di Bali. (Foto: Dok. Istimewa)
Denpasar -

Beredar poster berisi provokasi aksi penolakan omnibus law di sejumlah titik di Denpasar, Bali. Poster itu tertempel di tembok dan tiang-tiang.

Dalam isi poster itu, tertulis ajakan melakukan unjuk rasa dengan tagar #BaliTidakDiam. Poster itu juga mengajak mengumpulkan massa sampai seruan melakukan penjarahan dan perusakan.

Di bagian bawah poster, tertulis beberapa aliansi, dari BEM kampus sampai lembaga bantuan hukum di Bali.

Anggota Aliansi Bali, Dewa Gede Satya Naracita Kusuma, membantah poster berisi provokasi yang beredar itu. Dia mengatakan poster tersebut disebar oleh oknum tidak bertanggung jawab.

"Kami sudah bilang bahwa itu bukan poster kami secara tegas, kami menyatakan bahwa itu bukan poster kami karena jelas-jelas kami memang menyebar poster pada Selasa kemarin, namun poster kami hanya poster hitam putih tidak ada warna lain, selain warna hitam putih. Di mana poster yang tersebar ada poster tinta merahnya dan ajakan daripada poster kami tidak yang menjurus kepada keributan atau kericuhan," kata Kusuma, Rabu (21/10/2020).

Kusuma juga menegaskan sudah melakukan konfirmasi di media sosial official 'Bali Tidak Diam'. Termasuk melakukan jumpa pers untuk meluruskan beredarnya poster provokasi yang mengatasnamakan 'Bali Tidak Diam'.

"Itu adalah hoax yang sengaja disebarkan untuk memecah belah gerakan atau membenturkan gerakan ini dengan masyarakat," ujar Kusuma.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolresta Denpasar Kombes Jensen Aviatus Panjaitan mengatakan pihaknya masih melakukan penelusuran terhadap pelaku yang memasang poster provokasi tersebut.

"Kita sedang dalami, selidiki yang menyebar poster itu tim Polda Krimum, Krimsus, dan Polresta kita sedang mendalaminya," kata Jensen saat dihubungi detikcom.

Jensen mengimbau para aliansi tidak melakukan demo di tengah pandemi COVID-19. Menurutnya, demo berpotensi menjadi klaster penyebaran virus Corona atau COVID-19.

"Jadi sebaiknya kalau ada rencana kegiatan demo itu bukanya tidak boleh, itu adalah hak demokrasi masyarakat itu di tengah pandemi COVID. Saat ini ayo kita berempati mari kita bergotong royong memutus mata rantai penyebaran COVID ini dengan cara menahan diri. Kalau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan aspirasi ada jalurnya tidak perlu dengan cara demo. Karena saat ini demo cara yang tidak tepat," kata Jansen.

"Karena mau tidak mau demo akan mengumpulkan masyarakat belum lagi ada yang apa namanya yang menunggangi contoh aja sekarang ada yang menyebarkan poster-poster seperti itu membuat resah masyarakat itu. Kita ingin Bali sehat, kita ingin Bali bangkit ekonominya, ayo kerja sama, mahasiswa-mahasiswa siapa pun Anda elemen masyarakat kita bahu-membahu kita putus mata rantai COVID-19 ini dengan cara jangan lakukan demo-demo," lanjut dia.

Simak juga video 'Tiga Pelaku Pengeroyokan Polisi Saat Demo Omnibus Law Ditangkap':

[Gambas:Video 20detik]



(idn/idn)