Demi Harga Diri Orang Tua, Anak Pejuang Tolak Tawaran Ganti Rugi Belanda

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 14:23 WIB
Ilustrasi pembantaian di Rawagede
Ilustrasi masa kolonial Belanda (Edi Wahyono/detikcom)
Makassar -

Pemerintah Belanda menawarkan ganti rugi kepada anak-anak dari warga Indonesia yang dieksekusi oleh serdadu Belanda saat perang kemerdekaan. Namun tak semua keluarga korban pembantaian yang mengharapkan kompensasi itu.

Seperti Andi Makmur Makka (75), anak dari korban eksekusi serdadu Belanda. Ayahnya, Makkarumpa Daeng Parani, dieksekusi di wilayah Parepare sekitar 1947. Tidak hanya ayahnya, ketiga saudaranya juga hilang selama perang kemerdekaan melawan Belanda.

"Iya hilang, 3 saudara saya hilang. Bapak saya dan 3 saudara saya ikut. Ketika bapak saya tertembak, kakak saya yang kedua baru mendarat untuk melakukan penyerangan kepada belanda, dan tidak pernah ketemu," cerita Andi Makmur saat berbincang dengan detikcom, Rabu (22/10/2020).

Andi Makmur menutur hilang saudaranya ikut berperang bersama Wolter Monginsidi dan dicari oleh Belanda saat itu. Baginya, saat itu merupakan kondisi yang sangat sulit yang dialami dia dan keluarganya.

Kembali ke soal kompensasi dari pemerintah Belanda, Andi Makmur menjelaskan bahwa dia sempat dihubungi oleh seseorang bernama Ivonne.

Ivonne adalah orang keturunan Indonesia yang bermukim di Jerman. Menurutnya, permintaan kompensasi ini diprakarsai oleh orang-orang keturunan Indonesia yang bermukim di Belanda dan Jerman.

Di sana, mereka mendirikan sebuah yayasan untuk mencari anak-anak korban serdadu Belanda yang berada di Sulawesi. Pada sekitar 1974, Andi Makmur saat menjadi wartawan pernah melakukan investigasi soal jumlah korban oleh serdadu Belanda di Sulsel.

Dari hasil investigasinya, tidak pernah ada suara bulat soal jumlah korban serdadu Belanda mencapai 40 ribu jiwa. Pendapat lain saat itu, kata Andi Makmur, korban di Sulsel sekitar 7.000 jiwa, tetapi belum termasuk korban dari rakyat biasa yang ditembak karena disebut melindungi pejuang kemerdekaan kala itu.

"Jadi memang dari dulu dia (Ivonne) mencari anak anak korban yang ada di Sulsel, banyak kan di Sulsel. Kemudian mereka membikin apa namanya gerakan di sana, semacam yayasan sukarela, seperti LSM, menghubungkan orang ini dengan pemerintah Belanda, dan pengacaranya orang Belanda," ungkapnya.

Dikatakannya, tuntutan kepada pemerintah Belanda soal kompensasi itu, ada yang berhasil dan ada yang tidak. Namun, kendala yang dihadapi adalah soal penelusuran anak-anak yang orang tuanya menjadi korban serdadu Belanda. Tujuan yang dilakukan kelompok Ivonne ini pun tidak serta merta disambut dengan baik oleh keturunan para korban.

"Ada yang berprinsip perjuangan dan pengorbanan orang tua mereka tidak pantas dihargai dengan kompensasi seperti itu. Bukan soal kecil dan banyaknya, tetapi mereka punya semacam harga diri, tidak ingin jasa orangtua mereka dinilai dengan uang," kata Andi Makmur.

Bagi Andi Makmur, dia menilai mungkin masih ada keluarga korban lainnya yang membutuhkan dana kompensasi itu, meski dia sendiri menolak tawaran itu.

"Kalau saya mungkin menilai ada lebih yang perlu, dan mungkin juga ditolak (tawaran itu). Jadi ada dua pendapat masing-masing. Janganlah pengorbanan mereka dihargai (kompensasi), Kalau kita kejar kan, kematian bapak atau saudara kita minta diberi kompensasi itu berupa harga diri juga," tandas dia.

Simak video 'Sri Mulyani: Penjajahan Belanda Wariskan Utang US$ 1,13 M':

[Gambas:Video 20detik]



(fiq/aud)