KPK Eksekusi Anak Buah Bupati Sidoarjo Nonaktif ke Rutan Perempuan Porong

Ibnu Hariyanto - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 12:33 WIB
Kadis PU Sidoarjo Sunarti Setyaningsih meninggalkan gedung KPK usai jalani pemeriksaan. Ia tampak menutupi borgol di tangannya dengan menggunakan tas.
Sunarti Setyaningsih (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Jaksa KPK mengeksekusi terpidana kasus suap Bupati Sidoarjo nonaktif Saiful Ilah, Sunarti Setyaningsih, ke Rutan Perempuan Porong. Mantan Kepala PU Bina Marga SDA Sidoarjo itu divonis 1 tahun 6 bulan penjara.

"Jaksa eksekusi KPK Medi Iskandar Zulkarnain, Selasa (20/10/2020) telah melaksanakan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Surabaya No.36/Lid.Sus-TPK/2020/PN.Sby tanggal 5 Oktober 2020 atas nama terpidana Sunarti Setyaningsih dengan cara memasukkan ke Rumah Tahanan Negara Perempuan Kelas II-A Surabaya di Porong untuk menjalani pidana penjara," kata Plt Jubir KPK Ali Fikri kepada wartawan, Rabu (21/10/2020).

Sunarti terbukti bersalah menerima suap bersama-sama Saiful Ilah, Kabid Jalan dan Jembatan Judi Tetrahastoto, dan Kabag Unit Layanan Pengadaan (ULP) Sanadjihitu Sangaji berkaitan dengan proyek infrastruktur di Dinas PUPR Sidoarjo. Selain itu, Sunarti dihukum membayar denda Rp 100 juta.

"Terpidana juga dibebani untuk membayar denda sejumlah Rp 100 juta dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan," ujar Ali.

Dalam kasus ini, majelis hakim menjatuhkan vonis berbeda-beda kepada empat terdakwa kasus suap proyek infrastruktur di Dinas PUPR Sidoarjo. Keempat terdakwa kasus ini ialah Saiful Ilah, Sunarti, Judi Tetrahastoto, dan Sanadjihitu Sangaji.

Bupati nonaktif Sidoarjo Saiful Ilah divonis 3 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan. Saiful dinyatakan terbukti bersalah karena menerima suap total senilai Rp 600 juta.

Sunarti Setyaningsih divonis dengan hukuman pidana penjara 1 tahun 6 bulan dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan. Kemudian, Judi Tetrahastoto dan Sanadjihitu Sangaji mendapat vonis sama, yakni pidana penjara 2 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 6 bulan.

(ibh/gbr)