Kolom Hikmah

Jagalah Lisan, Selamatlah Insan!

Abdurachman - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 04:59 WIB
Abdurachman, guru besar UNair
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

"Yang disebut Muslim adalah orang yang lisan dan perbuatan tangannya (antara lain menulis di medsos atau di mana pun) membuat orang lain aman dan selamat." (HR Muslim). Karena itu, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam." (HR al-Bukhari dan Muslim)

Bagai hujan deras, curahan aneka ujaran pada era industri 4.0 yang bukan bernilai positif, bukan bernilai manfaat atau bukan bernilai baik. Berupa ujaran lisan maupun tulisan. Ujaran tulis sangat ramai terutama di media sosial.

Jika dilakukan evaluasi menggunakan analisis statistik, melalui riset ilmiah, bisa dipastikan bahwa ujaran menghinakan, mengumpat, ujaran kebencian, kekecewaan dan kesombongan menempati porsi besar. Boleh jadi mendekati seratus persen. Padahal ujaran yang bernilai negatif bisa menurunkan derajat keislaman seseorang, bahkan derajat keimanannya, setidaknya bila diambil dari sebagian makna dua Hadits di atas.

Ujaran sombong muncul dari diri yang merasa lebih baik dari orang lain. Merasa diri memiliki kedudukan lebih tinggi dari orang lain, karena nilai kebaikannya, karena nilai apa pun yang dirasa dimilikinya. Padahal boleh jadi orang lain memiliki kelebihan kebaikan atau kelebihan apa pun yang tersembunyi dari pengetahuannya.

Belum lagi ujaran yang masuk kriteria hoax, bukan sebenarnya. Apalagi fitnah, ialah sengaja memberitakan kejelekan orang lain padahal sebenarnya tidak demikian, astaghifrullaah.

Pernah suatu ketika Luqman ahli hikmah diminta tuannya untuk menyembelih seekor kambing. Luqman melakukannya. Tuannya meminta Luqman mengambilkan dari kambing itu bagian yang terbaik. Luqman membawakan organ jantung dan lidah.

Di lain kesempatan Luqman diminta lagi menyembelih seekor kambing. Tuannya meminta Luqman mengambilkan bagian dari kambing itu. Kali ini dia meminta mengambilkan yang terburuk. Luqman kembali membawakan untuknya organ jantung dan lidah.

Merasa aneh dengan perbuatan Luqman, tuannya bertanya, "dulu ketika aku meminta bagian terbaik dari kambing yang aku perintahkan untuk menyembelihnya, engkau ambilkan aku jantung dan lidah. Sekarang, ketika aku memintamu mengambilkan yang terburuk, engkau pun mengambilkan bagian yang sama. Apa maksudmu?", tuannya berkomentar penuh tanda tanya.

"Mohon maaf Tuan, jika dua organ itu baik, maka berarti seluruh tubuh kambing itu baik. Jika jantung dan lidah kambing itu buruk, maka bisa Tuan pastikan bahwa seluruh tubuh kambing itu buruk."

Tuan Luqman terdiam sambil tafakkur.

Di dalam Islam, sesuai sabda Nabi saw nilai baik buruknya seseorang diindikasikan oleh baik buruknya jantung seseorang. "Alaa fil jasadi al mudlghah, faidzaa sholuhat sholuhal jasadu kulluh, wa idza fasadat fasadal jasadu kulluh, alaa wahiyal qalb". "Bukankah di dalam tubuh itu ada segumpal daging, yang bila daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia buruk maka buruk pula seluruh tubuh. Bukankah segumpal daging itu yang bisa berbolak-balik (berdegup, jantung)?"

Tubuh manusia terdiri dari berbagai organ; ada jantung, otak, mata, telinga, paru, liver, ginjal, pankreas, usus, rahim, ovarium, prostat, dan organ-organ yang lain. Baiknya seluruh tubuh menunjukkan baiknya seluruh organ. Buruknya seluruh tubuh mengindikasikan kemungkinan buruknya seluruh organ.

Baik buruknya seseorang dinilai dari baik buruknya jantung orang itu. Sedangkan nilai baik-buruk jantung bisa dianalisis melalui lisannya, melalui produk lidahnya. Lisan yang selalu berujar benar, baik, apalagi indah mengindikasikan baiknya jantung seseorang. Itu berarti menunjukkan baiknya seluruh tubuh orang tersebut. Sedangkan lisan yang berujar sebaliknya, mengindikasikan kondisi tubuh orang tersebut perlu segera diperbaiki.

Kalau dikorelasikan dengan status sehat-sakit maka, semakin positif ujaran seseorang (baik, benar, apalagi indah) semakin sehat orang itu. Sebaliknya, semakin senang seseorang berujar kebalikan dari yang di atas, orang tersebut sedang mengantar dirinya kepada sakit, bahkan binasa, na'uudzubillaah. Ujaran bohong, pasti termasuk ujaran buruk. Termasuk ujaran bohong ialah janji-janji yang tidak ditepati.

Nabi SAW bersabda: "Tidak akan lurus iman seorang hamba sebelum lurus qalbu-nya, dan tidak akan lurus qalbu seorang hamba sebelum lurus (benar) lisannya." (HR Ahmad).

Pasti siapa pun kita, terlebih yang sampai tulisan ini kepadanya, tidak ingin agar dirinya jatuh sakit apalagi binasa. Oleh karena itu wajar, kalau melalui tulisan ini kita semua mulai berusaha untuk belajar dan terus berusaha serius memperbaiki seluruh ujaran kita. Agar ujaran setiap dari kita selalu benar, baik dan indah, aamiin.

Jika itu kita lakukan, maka seluruh perbuatan kita berubah menjadi baik. Sedangkan seluruh kekeliruan kita diampuni Tuhan. Kalau demikian maka semua kita berhak hidup sehat, bahagia, sejahtera, damai, aman, dan sentausa selamanya. Itulah gambaran kehidupan surgawi akibat siapa pun dari kita yang selalu menjaga ujaran agar senantiasa baik, benar apalagi indah.

Allah swt. menjamin kondisi demikian sesuai dengan firman-Nya dalam al-Quran (QS. 33;70-71): "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar (salah satunya kehidupan surgawi, penerj.)."

Jika demikian tidak keliru pepatah yang menasihatkan; salaamatul insaan fii hifdzil lisaan, manusia yang selamat (aman, sehat, bahagia, sejahtera, sukses) adalah manusia yang pandai menjaga lisannya, menjaga ujarannya!

Abdurachman


Guru Besar Fakulas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)