Round-Up

Wanti-wanti Jokowi agar Klaster Long Weekend Tak Terjadi Lagi

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 21:32 WIB
Ilustrasi liburan
Ilustrasi liburan (Thinkstock)
Jakarta -

Libur panjang atau long weekend di akhir Oktober 2020 tinggal menghitung hari. Ada tebersit kekhawatiran libur panjang berpotensi melahirkan lonjakan kasus baru penularan virus Corona (COVID-19). Waspadalah!

Pemerintah menambah cuti bersama maulid Nabi Muhammad SAW sehingga total libur menjadi 3 hari, yaitu 28, 29, dan 30 Oktober 2020. Dengan demikian, ada libur pada Rabu, Kamis, dan Jumat.

Kebijakan cuti bersama ini diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2020.

Menghadapi rencana libur panjang itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan wejangan. Jokowi berpesan agar jangan sampai libur panjang berdampak kenaikan kasus Corona di Tanah Air.

Wanti-wanti itu disampaikan Jokowi saat memimpin Ratas Antisipasi Penyebaran Covid-19 Saat Libur Panjang Akhir Oktober 2020 yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (19/10/2020).

Jokowi kemudian mengingatkan lagi soal long weekend pada Agustus 2020 yang mengakibatkan kasus Corona meningkat.

"Ratas hari ini kita berbicara antisipasi penyebaran COVID berkaitan dengan libur panjang di akhir Oktober 2020. Mengingat kita punya pengalaman kemarin libur panjang 1,5 bulan yang lalu, setelah itu terjadi kenaikan agak tinggi," ungkap Jokowi.

Jokowi mengajak para menterinya menyusun strategi agar peristiwa itu tidak terjadi lagi. Jangan sampai kasus Corona di Indonesia naik akibat libur panjang.

"Ini perlu kita bicarakan agar kegiatan libur panjang dan cuti bersama ini jangan sampai berdampak ke kenaikan kasus COVID," ungkapnya.

Sebelumnya pada Rabu, 2 September 2020, anggota Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah pernah mengungkapkan kasus Corona (COVID-19) di Indonesia meningkat 32,9 persen dalam satu minggu di pekan terakhir yang kemungkinan disebabkan efek libur panjang atau long weekend. Dewi mengatakan kenaikan kasus Corona paling banyak di Pulau Jawa, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, menjadi daerah penyumbang kasus tertinggi di pekan terakhir. Padahal, kata Dewi, kenaikan kasus di daerah ini sebelumnya tidak terlalu tajam.

"Bahwa memang pada pekan terakhir di Indonesia ini terjadi kenaikan kasus dalam waktu 1 minggu yang tinggi sekali 32,9%. Kemarin pada saat saya running analisis itu saya juga cukup kaget, ini apa yang terjadi di pekan terakhir, kenapa naiknya, sebelumnya 3 minggu ini cukup cukup stabil, naik 4%, turun 0,1%, tiba-tiba di pekan terakhir naik sampai 32,9% dari pekan sebelumnya," jelas Dewi kala itu.

"Kalau dibandingkan dengan jumlah kasus di pekan sebelumnya, di wilayah yang sama terjadi kenaikan ada yang 36%, ada yang lebih dari 100%, yang 20%, ada yang 56%," imbuhnya.

Ketika ditanya apakah kenaikan ini disebabkan oleh long weekend, Dewi menyatakan kemungkinan besar kenaikan ini berasal dari long weekend. Sebab, menurut Dewi, mobilitas masyarakat saat long weekend itu sangat tinggi sehingga risiko penularan juga sangat tinggi ketika aktivitas masyarakat tinggi.

"Ya bisa jadi kita juga melihat ada efek libur panjang juga kepada kenaikan jumlah kasus yang ada, terutama di Pulau Jawa tadi, karena kita melihat cukup tinggi naiknya, apalagi mobilitas di Pulau Jawa kan juga cukup sangat tinggi sekali, terutama liburan kemarin liburan panjang, kita akan melihat adanya mobilitas penduduk pasti akan meningkatkan risiko penularan," ungkap Dewi.

"Dan benar baru terlihatnya bukan dalam waktu 1-2 hari, tapi manifestasinya ketika udah bergejala dan sudah diperiksa ini mungkin akan ada delay sekitar 2 sampai 3 minggu baru kelihatannya di mana. Jadi kita juga harus waspada karena di Jatim kenaikan ada di pesantren, di Jabar ada dari klaster industri, ini angkanya cukup tinggi yang menyumbangkan beberapa kasus di provinsi," lanjutnya.

(aan/dhn)