Analisis BMKG soal Rentetan Gempa Guncang Pulau Pagai Selatan Sumbar

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 20:59 WIB
Ilustrasi BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Foto Ilustrasi Gedung BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Jakarta -

Wilayah Pulau Pagai Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), diguncang rentetan gempa yang 2 di antaranya gempa kembar (doublet earthquake). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat waspada.

Untuk diketahui, wilayah Pulau Pagai Selatan diguncang gempa kembar M 5,6 dan M 5,7 hari ini pukul 14.31 WIB dan 14.47 WIB. Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan soal gempa kembar ini.

"Kedua gempa ini disebut 'doublet' atau 'kembar' karena kekuatannya yang hampir sama dan terjadi dalam jarak dan waktu yang relatif berdekatan. Hanya dalam waktu 16 menit saja terjadi 2 kali gempa signifikan, dan kedua gempa ini dirasakan di Pagai, Kepulauan Mentawai, Padang, Painan, Bengkulu, dan Kepahiang, hingga membuat masyarakat panik," kata Daryono dalam keterangannya, Senin (19/10/2020).

Berdasarkan monitoring BMKG, tercatat wilayah Pagai Selatan mengalami peningkatan aktivitas gempa tektonik sejak 15 Oktober 2020. Per hari ini, total 13 gempa mengguncang wilayah tersebut.

"Hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa sejak 15 Oktober 2020 di Pagai Selatan telah terjadi peningkatan aktivitas gempa tektonik. Hingga hari ini tercatat telah terjadi gempa sebanyak 13 kali dalam variasi magnitudo dengan kedalaman dangkal," ujar Daryono.

"Adapun rincian rentetan kejadian gempa tersebut yaitu pada 15 Oktober 2020 terjadi 4 kali gempa, 17 Oktober 2020 terjadi 4 kali gempa, 18 Oktober 2020 terjadi 1 kali gempa, dan 19 Oktober 2020 hari ini terjadi 4 kali gempa," lanjut dia.

Daryono mengatakan rentetan gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal akibat subduksi lempeng di zona megathrust Mentawai-Pagai berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman gempa. Hasil analisis juga menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa seluruh gempa yang terjadi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault) yang merupakan ciri khas aktivitas gempa di zona megathrust," ujarnya.

Daryono pun meminta masyarakat mewaspadai rentetan gempa ini. Kewaspadaan diperlukan karena dikhawatirkan rentetan gempa ini merupakan gempa pembuka.

"Rentetan aktivitas gempa yang episenternya membentuk kluster di sebelah barat Pagai Selatan ini tentu patut diwaspadai, karena dikhawatirkan rentetan gempa ini merupakan gempa pembuka (foreshocks) sebelum terjadinya gempa utama (mainshock). Untuk itu, masyarakat diimbau untuk waspada, namun tidak perlu khawatir berlebihan, karena gempa kuat memang belum dapat diprediksi dengan akurat kapan terjadinya," ungkap Daryono.

Masyarakat perlu waspada agar dapat merespons setiap peringatan dini, termasuk evakuasi hingga terkait warning tsunami. Daryono meminta masyarakat segera menjauh dari area pantai jika merasakan guncangan gempa kuat.

"Dalam hal ini, evakuasi mandiri dinilai lebih menjamin keselamatan, dengan cara menjadikan guncangan gempa kuat yang dirasakan di pantai sebagai peringatan dini tsunami. Dengan evakuasi mandiri, kita lebih banyak memiliki waktu emas (golden time) untuk menyelamatkan diri dari tsunami. Untuk itu, bagi masyarakat pesisir, jika merasakan guncangan gempa kuat, maka segeralah menjauh dari pantai," tuturnya.

Daryono pun mengingatkan soal terjadinya gempa besar pada 25 Oktober 2010. Gempa itu memicu tsunami yang mengakibatkan 400 orang meninggal dunia.

"Perlu diingat kembali bahwa di sebelah barat kluster pusat-pusat gempa saat ini, pernah menjadi pusat gempa besar yang memicu tsunami pada 25 Oktober 2010 pukul 21.42 WIB. Saat itu terjadi gempa dengan kedalaman dangkal 20 km di zona megathrust dengan kekuatan 7,8. Dampak peristiwa tsunami yang terjadi pada saat itu, tercatat sebanyak lebih dari 400 orang meninggal dunia," tandasnya.

(azr/knv)