Satgas Wanti-wanti Pemda Cegah Klaster Pengungsian Saat Fenomena La Nina

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 17:12 WIB
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito (Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Juru bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasito, mengingatkan pemerintah daerah (pemda) untuk mewaspadai fenomena La Nina yang diprediksi terjadi beberapa bulan ke depan di tengah pandemi. Dia mewanti-wanti agar tidak terjadi klaster pengungsian.

"Kami minta pemda yang daerah, khususnya daerah rawan bencana, segera menyiapkan segala peralatan, fasilitas sesuai protokol kesehatan. Bagi masyarakat tetap patuhi 3M selama berada di lokasi pengungsian. Pemda harus monitoring ketat, termasuk testing, tracing, jika dibutuhkan di lokasi pengungsian dan harus ada sinergi antara pemda, lembaga daerah, TNI-Polri, masyarakat untuk menghindari terjadinya klaster pengungsian. Mohon daerah rawan bencana segera hubungi BPBD, BNPB untuk menyiapkan segala peralatan, fasilitas yang dibutuhkan," ujar Wiku dalam tayangan langsung yang disiarkan aku YouTube BNPB, Kamis (15/10/2020).

"Di pengungsian harus dipastikan masyarakat mempunyai masker cadangan, hand sanitizer, tempat makan pribadi, serta tempat evakuasi yang didesain dapat berjaga jarak dan selalu ada petugas kesehatan di sekitar pengungsian," sambungnya.

Wiku menuturkan, hal tersebut disampaikan untuk mewaspadai musim hujan yang akan berlangsung selama 6 bulan ke depan akibat La Nina. Disebutkan dalam musim penghujan itu akan ada peningkatan intensitas hujan sampai 40 persen.

"Berpotensi memicu terjadinya bencana alam hidrometeorologi yang meliputi banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang, serta puting beliung. Bahaya bencana alam ini sayangnya akan dihadapi banyak masyarakat Indonesia di tengah kondisi pandemi COVID-19 yang cukup menyulitkan dan membawa bahaya sendiri terhadap masyarakat," kata Wiku.

Untuk itu, pemda diminta untuk terus berkoordinasi dengan BNPB ataupun BPBD setempat sebagai langkah siap siaga sebelum fenomena La Nina terjadi. Upaya mitigasi, lanjutnya, juga harus dilakukan berdasarkan pengalaman menghadapi bencana pada tahun-tahun sebelumnya.

"Meliputi perbaikan tata kelola air dari hulu ke hilir serta optimalisasi danau, embung, sungai, dan kanal untuk betul-betul dapat mengantisipasi debit air yang berlebih pada masa datang ini. Satgas juga imbau pemda bersama pihak lain dalam mitigasi bencana gara dapat menyiapkan contingency plan karena saat ini mitigasi bencana harus sesuai dengan bencana non-alam, pandemi yang masih berlangsung. Contingency plan dan mitigasi risiko harus dipersiapkan dengan matang untuk meminimalisir kerugian bahkan korban jiwa," kata Wiku.

(idn/imk)