Diyakinkan TGPF, Keluarga Izinkan Jenazah Pendeta Yeremia Diautopsi

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Minggu, 11 Okt 2020 20:29 WIB
Benny Mamoto pria kelahiran Manado Sulawesi Utara yang sejak tahun 2009 menjabat sebagai direktur Badan Narkotika Nasional (BNN).
Ketua TGPF , Benny Mamoto (Foto: Hasan Alhabshy)
Jakarta -

Tim gabungan pencari fakta (TGPF) terus mengusut kasus penembakan pendeta Yeremia Zanbani di Intan Jaya, Papua. Kini, TGPF berhasil meyakinan keluarga untuk menyetujui autopsi jenazah Pendeta Yeremia.

"Hari ini TGPF berhasil meyakinkan keluarga pendeta Yeremia Zanambani untuk melakukan autopsi dan menandatangani BAP dari pihak kepolisian," kata Ketua TGPF Benny Mamoto dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (11/10/2020).

Benny menuturkan bahwa sebelumnya keluarga menolak adanya autopsi. Setelah mengantongi izin dari keluarga, kepolisian akan segera melakukan pemeriksaan jenazah.

"Sebelumnya pihak keluarga korban tidak mau menandatangani BAP dari pihak kepolisian. Autopsi akan dilakukan pada kesempatan lain," jelasnya.

Meskipun sempat terjadi insiden penembakan terhadap anggota TGPF, Benny mengungkapkan bahwa hal tersebut tidak menghalangi target pemeriksaan. Tim gabungan, sebut Benny, terus bekerja menggali keterangan dari berbagai pihak.

"Ini kami lakukan sampai malam, jadi target akan terus kami kejar hingga tercapai," tegasnya.

Selain itu, TGPF telah melakukan sejumlah upaya investigasi. Diantaranya, mendatangi lokasi TKP penembakan, menyambangi pemakaman dan gereja, bertemu keluarga korban serta meminta keterangan saksi lainnya di lapangan.

Adapun, seluruh keterangan dan fakta di lapangan akan dianalisa dan di olah. Selanjutnya dilaporkan kepada Menko Polhukam Mahfud Md.

"Seluruh informasi yang kami peroleh akan kami analisa, akan kami evaluasi, kemudian akan kami laporkan kepada bapak Menko Polhukam selaku penanggungjawab," ujarnya.

Benny pun mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah kendala selama menjalani investigasi. Untuk itu, ia pun memberikan apresiasi kepada TNI-Polri yang selalu menjaga keamanan dan membantu tim menyelesaikan berbagai permasalahan.

"Memang berat sekali kondisi medan, kemudian keterbatasan transportasi-komunikasi, itu semua jadi kendala," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Rombongan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) penembakan Intan Jaya dihadang dan ditembaki oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Hitadipa, Papua. TGPF memastikan proses investigasi tetap berlanjut.

"Saat ini tim masih berada di Sugapa dan sedang melanjutkan investigasi dengan memeriksa sejumlah saksi, termasuk beberapa orang yang kemarin dijadwalkan ulang. Pemeriksaan ini sebagai lanjutan atas wawancara terhadap sejumlah saksi di lokasi penembakan Pendeta Yeremias Zambani di Hitadipa pada Jumat. Sementara itu, tim yang berada di Jayapura hari ini juga melanjutkan tugas dengan bertemu sejumlah pihak, termasuk tokoh gereja," kata Ketua Investigasi TGPF Intan Jaya Benny Mamoto melalui keterangan tertulis, Sabtu (10/10/2020).

"Mohon doanya agar rencana-rencana selanjutnya berjalan lancar, hingga kami menyelesaikan tugas ini dengan baik," lanjutnya.

Benny menuturkan saat ini TGPF memakai pengaman diri dengan rompi antipeluru. Penggunaan helm dan rompi tersebut merupakan bagian dari standard operating procedure (SOP) agar tim dapat terlindung dari serangan.

Untuk diketahui, dua orang anggota TNI, satu warga sipil, dan Pendeta Yeremia Zanambani meninggal dunia setelah ditembak oleh anggota KKSB di Hitadipa, Papua. TNI menyebut tindakan KKSB itu untuk mencari perhatian menjelang sidang utama PBB.

Tonton juga 'Kondisi Dosen UGM-Anggota TGPF Korban Penembakan KKB di Papua':

[Gambas:Video 20detik]

(maa/maa)