Di Sidang Umum PBB, RI Dorong Penghapusan Total Senjata Nuklir

Tim detikcom - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 08:54 WIB
Menlu Retno Marsudi  dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Peringatan dan Promosi Hari Internasional Penghapusan Total Senjata Nuklir. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Tingkat Tinggi Sidang Majelis Umum (SMU) PBB ke-75 yang berlangsung sejak tanggal 21 September 2020.
Menlu Retno Marsudi dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Peringatan dan Promosi Hari Internasional Penghapusan Total Senjata Nuklir. (Dok. Kemlu)
Jakarta -

Selama 75 tahun sejak berdirinya PBB, dan 50 tahun sejak penandatanganan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), dunia masih jauh dari penghapusan total senjata nuklir. Untuk itu, pemerintah Indonesia mendorong penghapusan senjata nuklir.

"Tidak terdapat kemajuan signifikan oleh negara pemilik senjata nuklir dalam menghancurkan persenjataan nuklir mereka. Sehingga, defisit kepercayaan antarnegara semakin membesar," ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Peringatan dan Promosi Hari Internasional Penghapusan Total Senjata Nuklir, seperti dilansir situs Sekretariat Kabinet, Senin (5/10/2020).

Indonesia menggarisbawahi tiga hal penting untuk mencapai penghapusan total senjata nuklir. Pertama, penerapan dan penegakan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty/NPT).

"Kemajuan implementasi yang seimbang pada 3 (tiga) pilar NPT sangat penting, termasuk kewajiban semua negara pemilik senjata nuklir untuk memajukan pilar perlucutan senjata," kata Retno.

Kedua, penguatan mekanisme dan arsitektur perlucutan senjata global. Beberapa mekanisme perlucutan senjata seperti Konferensi Perlucutan Senjata (Conference of Disarmament), larangan uji coba nuklir komprehensif (CTBT), dan mekanisme lainnya harus diupayakan penegakannya agar tujuan penghapusan total senjata nuklir dapat tercapai.

"Terakhir, perlucutan senjata nuklir harus memberikan manfaat nyata bagi kemakmuran global," ujar Retno.

Retno menambahkan bahwa pandemi virus Corona (COVID-19) merupakan pengingat bahwa perlindungan manusia dan kemanusiaan hanya dapat tercapai melalui solidaritas global dan bukan melalui senjata nuklir.

"Mempertahankan keberadaan senjata nuklir tidak memberikan manfaat bagi dunia (zerosum). Di sisi lain, penghapusan total senjata nuklir akan memastikan keberlangsungan umat manusia," kata Retno.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Tingkat Tinggi Sidang Majelis Umum (SMU) PBB ke-75 yang berlangsung sejak 21 September 2020. Presiden Jokowi juga sebelumnya menyampaikan pidatonya secara virtual.

Tonton juga 'Tanggapan Amnesty Indonesia Soal Diplomat RI di Sidang PBB':

[Gambas:Video 20detik]

(dkp/mae)