Pasca G30S

Cerita Korban Tragedi G30S, Niat Jadi Guru Malah Dikirim ke Pulau Buru

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 04 Okt 2020 14:54 WIB
Makam Badang di Pulau Buru
Foto: Pulau Buru (Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Sakono pun akhirnya bisa melewati masa kesengsaraan di Pulau Buru. Dia dibebaskan kembali pada tahun 1979. Setahun kemudian Sakono menikah.

Dia memulai hidup baru bekerja sebagai mandor di perusahaan triplek di Purbalingga. Lalu, berpuluh-puluh tahun kemudian Sakono dipertemukan kembali dengan kawan-kawan senasibnya di Pulau Buru dalam sebuah acara reuni.

Reuni ini yang kemudian melahirkan organisasi Sekretariat Bersama 65 yang menaungi korban-korban 1965. Sakono mengaku rutin menghadiri pertemuan organisasi ini untuk membuktikan bahwa dirinya eksis di masa tuanya.

Meskipun pemerintahan Orde Baru merampas masa mudanya ketika itu, Sakono mengaku tidak menyimpan dendam. Dia sudah mengampuni ketidakadilan yang dia dapatkan.

"Saya tidak ada dendam kepada mereka yang berbuat jahat kepada saya. Saya sudah mengampuni dengan ikhlas pemerintah Soeharto dengan tangan kanannya Sarwo Edhie," ujarnya.

Kini, di usianya yang sudah 74 tahun, Sakono menghabiskan sisa usianya dengan kegiatan berkebun.

"Saya lansia mandiri. Setiap hari saya berkebun, warisan tanah dari rumah saya yang di Purbalingga yang saya jual. Ada sawi, terong daun singkong," tuturnya.

Halaman

(rdp/tor)